Minggu, 25 Agustus 2013

TriVhyFaLov

Ini adalah Ceritaku, kisah nyata tentang cinta yang paling berbekas dihatiku..
Ingin Aku simpan semua cerita itu untukku sendiri. Tapi, Aku pikir menceritakannya pada Pembaca akan memberikan pelajaran dalam mencintai, Untuk itulah dengan semua yang Aku bisa.. juga yang Aku ingat.. Ku susun semuanya dalam rangkai kata.

Nae gaseume saneum saram
(Orang yang hidup dalam Hatiku)
Nae nunmul dakka jul saram
(Orang yang menyeka air mataku)
Nae soneul jabajul dan Saram
(Satu-satunya orang yang memegang tanganku)
Gaege Neoraneum ireum
(Itulah namamu …)

Nae insangul han saram
(Orang yang hidup dalam hatiku)
Neomaneul saranghae
(Aku hanya mencintaimu)

-Ost. Brilliant Legacy

Be Mine…
~~~
            Aku tidak tau harus mulai darimana, karna kehidupanku berubah sejak saat itu. Ketika yang Aku ingat hanyalah embun rumput liar yang terus mengusik kakiku, juga sapaan angin yang membuatku terbiasa.
            Malam itu, Aku terus menatap matanya. Seseorang yang selalu saja memegang daguku, Entah apa maksudnya. Mungkin itulah salah satu hal yang paling Ia sukai dariku “Dagu”. Aku tidak pernah menyesal mengenalnya, walaupun jika itu adalah sebuah kesalahan. Sama seperti ketika Aku dilahirkan, Karna yang Aku tau Aku cukup bahagia dengan kehidupanku.
            “Bulan sabit”, Seorang dokter pribadi yang dulu sering memberikan terapi padaku mengatakan hal yang Ku abadikan. Sejak saat itu, Aku terus bahagia ketika mendapati bulan sabit ada dilangit. Karna Bulan Sabit adalah Aku, katanya.
            Jujur, bulan memang tak selamanya sabit. Itu yang membuatku jarang terlihat bahagia, karna akankah Aku tidak bisa melihat ? itu yang mereka katakan tentang Aku.
            Jika, memang Aku bercerita tentang apa itu “TriVhyFaLov” , mungkin inilah awal yang masih tersisa diingatanku sejak 4 Tahun yang lalu.
            Seorang temanku ‘Merlyn’ mengenalkan teman lelaki untuk juga menjadi temanku. Ada satu hal yang terus ada diotakku. “Untuk alasan apa Aku bersamanya ?” Tapi, jawaban yang Aku dapat hanya .. “Mungkin Ia menyukaimu” dan itu membuatku menyimpulkan banyak hal.
            Aku berhenti untuk benar-benar menyukai seseorang karna seseoranglah yang harusnya menyukaiku. Aku memilih bertahan dengan orang yang seperti itu, meski seumur hidupku Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencintai lelaki.
            Mereka mengvonisku “Egois” Tapi, itu memang benar.
            Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kesabaran penuhlah yang bisa betah bersamaku, dan saat itu umurku 16 Tahun ketika Aku bertemu dengannya.
            Aku mengenalnya dengan tidak pasti, yang Aku ingat hanyalah sms-sms tidak penting yang sering kali terjadi. Aku lulus SMA ketika Aku melihatnya secara nyata..
            Matahari sangat panas dan Aku hanya menatap aspal-aspal mendidih yang semakin membuatku gerah. Bahkan “Yaya” sepupuku sampai dibuat mengeluh beberapa kali.
Aku tidak percaya melakukan ini, jika tidak karna penasaran mana bisa Aku disini ditemani “Yaya” sepupuku. di pinggir jalan pulau Madura untuk menemuinya.
            Seorang Pria berjalan terengah-engah ke arahku, Aku yakin itu Dia. Karna Ia terus tersenyum kepadaku.
Namanya “Triez” . Dia semakin dekat, Aku gugup sampai tidak berani membuka helm-ku.
            Pria itu bersih dari yang kelihatan, Aku tidak tau apa yang Aku rasa saat Ia menjulurkan tangan kanannya ke arahku. rasanya “Anneh” karna Ia terlihat lebih indah dari yang pernah Aku bayangkan, Aku ingin cepat berlalu darinya itu pun jika boleh.
“Jadi, ini seseorang yang selalu sms denganku ?”
Aku meraih jemarinya dan lagi-lagi Ia tersenyum
“Aku harus segera pulang, Triez”
“Tidak mau mampir ke rumah ?” tawarnya
          Dan mungkin saja itu juga kalimat penahanan seperti keojimal (jangan pergi) atau sejenisnya.
Ahg, mungkin lain kali..” tutupku
Ia hanya mengangguk dan membiarkan Aku pergi dengan Yaya.
“Ka’ Dia lumayan juga” Komennya, membuatku tertawa diatas motor yang Kami lalui sampai sakit perut. Karna sepupuku ini masih kelas 6 SD. Ia tidak akan pernah tau untuk apa Pria-Wanita bertemu saat pertama, karna mungkin itu pula yang terbesit di otakku.
            Aku tidak tau apa yang ada dipikiran Triez saat pertama kali melihatku di Gang Wisata, karna Ia jadi jarang menghubungiku. Aku pikir mungkin Dia tidak menyukaiku.
“Apa Triez itu bersuara serak ?” tatap Kiky, sahabatku.
“Iya, kenapa memangnya ..”
“Apa mungkin itu Triez yang pacaran dengan Suhada ?”
“Aku tidak tau” tutupku
            Tapi, Aku sempat berhenti bernapas saat membaca sms dari Merlyn. Karna Ia terus memintaku datang ke warungnya.
“Triez  ingin ketemu, Vhy.. bisakan ?” pintanya
“Apa Aku harus ?”
“Iya, Harus Titik tidak pake Koma”  ancamnya.
            Suasana panas dari pasar sentral Poso, yang telah menjadi kalimat biasa bagi yang sering ada disitu. Saat itu ketika Aku melihatnya untuk yang kedua kalinya, Aku sedikit tidak nyaman. Dia sama sekali tidak menunjukan ekspresi jika Ia menyukaiku.
            Triez  juga tidak banyak bicara, Ia hanya mengatakan ‘Iya’ atau ‘Tidak’ dan hanya mengangguk ataupun tersenyum. Apa Dia memang seseorang yang misterius ? Aku tidak tau, Karna Aku tidak terlalu mengenalnya. Dia mengendarai motor Jupiter Z biru plat merah, sementara Aku juga menggunakan motor yang sama dengannya milik Kakak Sepupuku.
Dia berlalu sebelum Aku memulai.
            Atau bahkan Aku belum memulai apapun, Apa yang ada dipikirannya atau Apa yang Ia rasakan saat melihatku ? Aku juga tidak pernah tau. Untuk apa Ia meminta bertemu kedua kalinya denganku ? Kalau tidak ada satu kata pun yang bisa Ia ucapkan kepadaku. Yah.. setidaknya Ia perlu bertanya bagaimana kabarku, atau apapun itu. Aku juga tidak pernah mendapati Ia sedang melirikku, Tidak pernah sekalipun dan Itu membuatku bingung.
            Dan malamnya, Aku mendapati sms di-inbox darinya
“Aku jatuh cinta, Maukah jadi pacarku ?”
hal yang paling Aku kenang dari seseorang yang sangat misterius, yang selalu bersikap dingin dan acuh padaku.
“Boleh juga, Aku mau jadi pacarmu”
Itu yang Aku balas, Ia menyukaiku mmmungkin …? dan Ku anggap saja itu sebagai prestasi. Tapi, Aku tidak yakin jika ini benar-benar hal yang Aku rasakan, Karna Ia terlalu acuh saat pertama kali bertemu dan kedua kali bertemu denganku.
“Boleh Ku panggil Kau … Sayang ??”
            Aku terdiam cukup lama untuk itu, rasanya ini hanya bagian terburuk dari sebuah permintaan. Karna bisa saja bukan Dia yang sedang sms-an denganku. Jadi, Ku ikuti saja sampai dimana permainan ini berakhir
“Kenapa tidak dibalas ?”
            Aku cukup terkejut saat Ia mendesakku, karna mungkin saja Ia bukan tipe lelaki ‘sabar’ seperti yang Aku impikan selama ini.
“Cbb, boleh ko’ Panggil saja sesukamu”
            Esoknya disatu kesempatan yang bisa Kami miliki, Aku hank-out dengannya untuk pertama kali. Ia menggenggam erat jemari tanganku, Satu hal yang Aku sukai darinya ialah tangannya yang selalu hangat meski angin pantai sedikit meringkik dikulitku.
            Aku memendam pertanyaan-pertanyaanku tentangnya, Karna bibir ini kehilangan sejuta bahasa. Ia hanya membisik satu pujian “I Love You”
            Hmpp…… jika saja Aku sebatang pohon, Aku yakin saat ini Aku sudah tumbang. Atau jika saja Aku punya sayap, Aku pasti sudah terbang.
            Aku seperti kucing basah yang kedinginan dihadapannya, saat mata kami terus bertabrak arah pandang dan Ia mengecup bibirku. Mungkin Aku terlambat untuk menghindar sehingga hal itu terjadi diantara Kami, Aku terdiam dungu. Karna Aku terlalu deg-deg’an menerima ciuman itu.
            Bagiku, seperti soal matematika dan Kini Aku sedang kebingungan menentukan rumus. Seperti itulah rasanya {*_*} …
            Aku menghindari maghnet dari matanya “Kau tidak minta izin” keluhku
“Untuk apa ?”
“Untuk menciumku”
Dia tertawa, jemari kanannya mengelus-elus rambut panjangku. Sebelum akhirnya Kami meninggalkan pantai pasir putih ‘Imbo’ Itu ke arah kota dimana Ia tinggal.

~ Hanjulgi bichero wajun, Niga itgie naneun Haengbokhal suga innengeol ~
{Kamu bagaikan secercah sinar terang untukku, Karna Kamu disini Aku bisa bahagia}

C I N T A
Aku terlalu sering mendengarnya, meski Aku tidak yakin apa artinya ini ketulusan memberi atau ketulusan membalas. Jika saja Tuhan bisa menciptakan kata yang lebih spesifik untuk mewakili perasaan seseorang. Aku yakin tidak ada yang lebih menyakitkan sebelumnya daripada mengerti apa arti Cinta sebenarnya.

            Malam minggu pertama yang Aku lalui dengannya sangatlah kacau, Aku memiliki Pacar cadangan waktu itu. Mungkin Aku jahat dimata kalian. Tapi, Aku melakukan ini karna Aku tidak sanggup menolak. Namanya, “Dino” anak tegalrejo.
            Triez  meminta bertemu sementara Aku di tegalrejo bersama Dino. Tapi, itu tidak berlangsung lama, beberapa waktu setelah itu semua pacar cadangan yang Aku punya pada jatuh berguguran dan yang tersisa hanyalah Triez  seorang.
            Saat Dia pergi ke palu, Aku tidak pernah menahannya untuk jangan pergi. Meski itu yang Aku inginkan, Karna Aku tau Aku tidak terlalu pantas dengan Cinta.
“Bisakah Kita putus saja ?” tawarku
“Kenapa harus putus ?”
            Dia malah menanyaiku balik, terus terang Aku takut menyakitinya dan Aku terlalu takut mendengar apa yang terjadi padaku. Aku sakit, Mereka hanya menyuruhku meminum beberapa obat suplemen, Biovision, Neourobion dan Entahlah apalagi. Ditambah Aku jadi pengkonsumsi wortel tiap harinya, Sayup-sayup yang Aku dengar Aku terancam Glaukoma.
Sayangnya, Aku tidak tau Glaukoma itu penyakit apa.
“Aku tidak yakin Kau mencintaiku, Triez..”
“Percayalah, Aku mencintaimu” tutupnya
            Dan Aku tersenyum puas mendengar kalimat itu, kalimat yang sangat meruntuhkan perasaan curigaku padanya. Meskipun itu sangat gelap. Tapi, Aku bisa memastikan riak wajahnya pun beriang ria bersama denganku. Dan genggaman tangan hangatnya yang tidak mau Aku lepaskan.
            Aku terlalu penasaran semua tentangnya, sehingga Aku harus bertanya sama ‘Chezy’ teman SMA-ku lalu. Ia bisa membaca pribadi seseorang, masa lalu dan masa depan. Tapi, Ia tidak mau di anggap sebagai peramal. Dan katanya :
- Dia mencintaimu dengan cukup
- Dia sangat tertutup dan
- Keluarganya sangat tidak beraturan
“Jika Kau mau, tanyakanlah padanya apa yang terjadi di keluarganya. Tapi, jangan sampai menyakiti hatinya” tawar Chezy.
            Sementara Aku yang sudah terdiam seperti lilin mati hanya mengangguk untuk mewakili jawabanku.
            Akhirnya, Triez  pulang dari palu. Satu hal yang paling jelas di ingatanku ialah saat malam sudah larut, Ia mampir dalam perjalanannya dengan kaos ungu dan celana pendek serta bendau di rambutnya. Ia terlihat sangat cantik dengan bendau itu.
“Kenapa Kau mampir ?” tatapku diujung pintu yang Aku buka seperempat bagian, Ia mengintip lalu tersenyum tanpa dosa.
“Cucikan baju kotorku, sayang” ujarnya sembari memberi tumpukan pakaian di hadapanku, benar- benar Aku syok karnanya. Ialah Pacar pertamaku yang memintaku mencuci pakaian. Ummpphh… Aku sempat tarik nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk setuju. Aku tidak menyangka jika Ia mampir hanya untuk minta pertolongan.
“Ku pulang nah ? tolong cucikan ya ? Aku mencintaimu”
Kalimat terakhir yang Aku dengar sebelum akhirnya Dia pergi begitu saja dari depan rumahku dengan mobil yang dikendarainya.
“Pakaian siapa, ka’ ?” tegur Mama saat Aku berbalik. Aku cukup mati gaya untuk menjawab pertanyaan Mama. Jadinya, Aku hanya berlalu sembari memamerkan senyuman Malaikat dimana Mama berada.

            Disebuah kesempatan Aku berkunjung dirumahnya, di Gang wiasata I. Dia sempat berkarouke ria disana. Aku hanya diam menatapnya, Hanya saja Aku tidak percaya bisa berpacaran dengannya. Padahal Kami tidak punya kenangan yang Indah satu pun.
            Hari itu hujan sangat deras, Dia menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
“Boleh pinjam handukmu ?” pintaku
“Tapi, ini sudah kotor”
“Tidak masalah, Aku hanya ingin mengeringkan kakiku”
Dia tertegun, mungkin Ia mengira Aku juga ingin mengeringkan rambutku.
Tapi, menit berikutnya Aku yang lebih tertegun. Dia jongkok dikakiku, mengeringkan Kakiku dengan handuk yang Ia pegang.
“Aku bisa sendiri”
“Sudah, Diam saja” Dia manatapku lalu tersenyum.
            Dari cara – caranya memperlakukanku, Aku yakin Dia cowok playboy. Dia memasakan Aku Mie Goreng instan lalu menyuapinya ke arahku. WAaah.. Dia benar-benar berpengalaman untuk meraih Cinta seorang Perempuan.
“Boleh Ku tanya ?”
“Boleh, Tanya apa ?” ujarnya pasrah. Aku berhenti memakan mie suapannya, Karna Aku terlalu kenyang untuk melanjutkan itu. Hari itu senja sudah lenyap berganti malam yang gelap.
            Hujan terus turun dan udara dingin lagi – lagi menyingkap tubuhku.
“Apa orang Tuamu masih lengkap ?” ujarku
“Kenapa Kau tanyakan itu ?” Dia terlihat marah, dan itu membuatku serba salah. Aku duduk memeluk lututku karnanya.
“Papaku sudah tidak ada ..” ujarnya, Ia menjatuhkan kepalanya di atas lututku. Aku tidak tau jika Ia akan menangis atau setidaknya sedih.
“Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih” ucapku
Lalu memberanikan diri memeluknya dan Ia menceritakan segalanya.
Perceraian Orang Tuanya, membuat Ia menetap dirumah Neneknya dan saat Ia besar, Ia akan menemui Papanya. Tapi, hal yang Ia dapat hanya pelukan dari Orang-orang sekitar yang menemuinya dan bilang kalau Beliau sudah meninggal.
            Wajar jika Ia seseorang yang kesepian, Ia hidup dan berdiri menjadi seorang Lelaki tanpa panutan seorang Ayah sejak kecil. Aku tidak membayangkan jika hal itu terjadi padaku, Karnanya Aku ikut menangis. Aku benar-benar tidak tau jika rasa penasaranku terhadapnya hanya akan melukainya sejauh ini dan membiarkan masa lalu yang Ia kubur kembali terurai.
            Ia bangun. Tapi, justru Dia yang menghapus air mataku
“Maafkan Aku Triez  , Aku tidak tau..”
Dia tersenyum dalam perihnya hati yang Ia coba sembunyikan dariku. Tapi, tetap saja riak-riak wajahnya masih merengkuh pilu.
“Tidak apa – apa, hanya saja. Jangan pernah membahas ini lagi..” pintanya.
            Aku mengangguk mencoba menetralkan hatiku dengan serta merta mendekapnya, sementara hujan diluar sana seakan ikut merintih.
“Aku janji”
….

A Ticket to the moon

***
“Kau mau kuliah ?”
tuturku dan Ia hanya menatapku tanpa ekspresi, sebenarnya Aku males kuliah. Satu hal yang ada di otakku hanyalah menjadi Penulis handal yang terkenal karna novel-novel yang best seller, Meskipun itu mimpi yang cukup aneh.
“Aku mau kuliah” jawabnya dan Itu cukup memancing semangatku, Kami mendaftar sama – sama. Aku ambil Ekonomi Manajemen dan Ia ambil Ilmu sosial politik, Hal yang Aku tidak bisa lupa ialah saat Kami menyiapkan preparation untuk ospek.
Lucu, Karna terlihat seperti orang gila yang selalu dikerjain Panitia.
            Kami selalu bertemu saat makan siang ketika Ospek berlangsung. Aku cukup tenang saat Ia disampingku, ada beberapa ketakutanku berkurang. Bahkan buku tanda tangan yang harus Ku minta pada Panitia, justru Triez  yang mencarikannya. {*_*}
            Ada banyak hal sederhana yang Kami lakukan dan itu sangat manis, saat itu bulan Ramadhan ditahun 2010 dan Kami sering bersama. Saat selesai sholat subuh Kami jalan dengan Mio soul hitam milik Kakaknya yang Ia culik secara diam-diam, atau bahkan saat ngabuburit di jalur 2 melihat anak – anak tarikan motor menunggu buka puasa.
            Aku cukup bahagia bersama dengannya dan karna itu Ku buat daftar sifat tentangnya dalam buku harianku, Baik ? Oke ! . Rajin ? Oke ! , Sabar ? Oke ! , Tapi, Dia cukup Naughty boy dimataku.
            Ospek yang Kami lalui 3 Hari selesai sudah, meskipun Aku nyaris pingsan saat habis lari – lari ketika Panitia meminta Kami duduk di Lab. Bersama untuk menerima materi.
            Entah karna capek atau karna penyakitku kambuh, Aku terancam Glaukoma. Tapi, Aku tidak tau apa itu Glaukoma. Jadi, Aku minta Triez  untuk ke warnet mencari tau lewat situs internet apa itu Glaukoma ?
            Tapi, sampai detik inipun Ia mengaku tidak pernah sempat ke warnet. Jadi, Aku pergi sendiri saat temanku membuka account Facebook, Aku nebeng pencarian tentang Glaukoma, dan ternyata …

Glaukoma |Penyebab |Jenis |Pengobatan
= Komplikasi saraf retina dan saraf otak yang menyebabkan kebutaan.

syok ??! jelas Aku syok
Takut ??! jelas Aku takut
Aku tidak bisa berhenti untuk menangis karnanya, Ternyata Aku cukup mengerikan dan jujur Aku tidak sanggup untuk menerima ini. Aku harus mengkonsumsi suplemen seumur hidupku agar kepala dan mataku tidak rusak.
            Sore itu, di alun – alun Sintuwu maroso. Aku bertemu dengannya seperti biasa. Tapi, Aku tidak sanggup menatapnya karna Aku takut. Aku takut semuanya, akankah Ia meninggalkanku karna ini ? atau Ia bertahan karna kasihan padaku ? Aku tidak tau, Dan itu menyebabkan air mata yang Aku tahan di ujung kelopak jatuh setetes.
“Kenapa Kau menangis, sayang ?”
Dia mendeteksi hatiku galau dalam sini, seperhatiannya Dia sampai bisa mendapatkan tetesan perih mataku. Karna kini sabitmu tertutup awan dan pelangimu terbias mendung dan merintih hujan.
“Apa Kau tau Apa itu Cinta ?” tanyaku
“Hal yang harus dipertahankan, itulah Cinta” jawabnya
Aku beralih tatap. Tapi, Aku terlalu bingung menentukan apa yang Aku rasakan.
“Cinta tidak harus memiliki, iya kan ?”
Dia menggeleng “Bukan, itu pengertian yang salah. Itu bukan Cinta” jawabnya
Air mataku mulai beriak mendung yang bermentari perih di ujung kelopak.
“Apa Kau mencintaiku ?”
“Aku sangat mencintaimu, Vhy..”
“Tapi, Aku mungkin tidak bisa melihatmu. Mungkin saja Aku akan buta”
“Lalu, kenapa ?”
“Kau masih mencintai orang buta ini ?” tadahku dan Dia mengangguk dengan pasti
“Aku mencintaimu, apapun yang terjadi” ujarnya
            Air mataku benar-benar tumpah kali ini, Dia mendekap erat tubuhku dan membiarkan Aku menangis sampai Aku puas dalam pelukannya.
            Pohon – pohon Akasia besar dilapangan sintuwu maroso beralun dahannya di abaikan angin, sehingga daun – daun kuningnya rontok dan menyerbu jalur Dua yang sepi.
            Daun – daun kecil itu seperti Aku, kan ? Tidak punya arah yang pasti dan hanya berharap kebaikan angin untuk membantunya terombang – ambing hingga akhirnya sampai ditempat yang sekiranya baik.
            Mungkinkah Kami bahagia karna pertemuan singkat ini, Tuhan ? Aku masih 16 tahun saat itu, Ketika hati sepi ini saling menemukan ruang untuk merindu sesamanya dan menyebabkan Kami tertawa bersama atau bahkan menangis bersama.
            Tidak ada kisah yang sempurna antara seorang Pecinta dan yang Dicintai. Tapi, biarkanlah Kami menemukan yang terbaik dengan cara Kami sendiri.
            Ada beribu harapan dan sejuta impian antara Kita, antara seseorang yang super cuek dan coll seperti Triez, Dan Gadis penuh obsesi dan se-selective sepertiku.
Berbeda ? Kami memang berbeda, bahkan ada seratus perbedaan antara Kami.
Aku suka sosis, Triez  benci sosis
Aku benci warna ungu, Triez  suka warna ungu
Aku sering menyendiri, Triez  menyukai saat Kita bersama.
            Dan Ada banyak hal lain yang selalu menjadi pertentangan. Andai kehidupan tidak terlalu kompleks seperti ini, Aku harap ada banyak ruang yang mengizinkan Kita terus bersama apapun yang terjadi sampai tangan Tuhan akan satukan Kita lagi.

***
a ticket to the moon ?
sebuah tiket menuju bulan, Kata Mereka ada banyak permintaan yang bisa terkabulkan disana. Aku ingin kesana dengan satu tiket yang tidak bisa membawa-mu ikut serta bersamaku. Aku terlalu menyedihkan untuk Kau cintai, Aku takut dan ketakutan untuk menjadi buta, Untuk tidak bisa melihatmu. Karnanya … hindarilah Aku dan biarkan Aku bernafas tanpamu, karna mungkin saja tidak ada hujan di bulan.
Kau itulah hujan bagiku
Dan, Aku tetap tidak bisa menjadi bulan bagimu, karna Aku hanya seperempat purnama, Jika pun Aku bulan ? tetaplah Aku hanya bulan sabit yang tidak bisa menyinarimu sepenuhnya.

            Hari itu, hujan tidak turun. Anginpun tidak mampu mendayuh dahan. Tapi, sesuatu terjadi antara Kita, Aku tidak baik – baik saja karnamu dan saat itu terlalu sulit untuk dijelaskan.
            Aku genap 17 tahun dan Kau mendapatkan cinta yang sangat rumit dariku, bagaimana Aku harus menjelaskan rasa ini ? kesalahan dari Cinta yang hanya Kita berdua yang tau.
            Bagaimana Aku bersikap dan bagaimana Dia menjagaku. Aku takut dan Dia memelukku erat, memancing kepercayaanku.
“Aku janji tidak akan meninggalkanmu.. Kau bisa menyuruh orang untuk membunuhku jika Aku meninggalkanmu”
            Kalimat yang menjadi landasanku mendekapnya, hanya itu yang Aku ingat saat malam di Gang Wisata I. Jadi, sejarah awal kita untuk mengubah segalanya menjadi lebih berharga.
            Aku memilih percaya dan stay dengannya, walau pun cinta ini sudah terlalu jauh dari batas kendali rasa sebenarnya. Tidak lama dari situ Dia memilih untuk melarikan Diri dari rumah di Gang wisata I, dari kakaknya yang selalu mengendalikan prifasi pribadinya.
            Dan tercipta banyak masalah antara Dia dan Kakak sepupunya itu, Dia kabur. Tapi, tidak untuk meninggalkanku.
            Kita bersama bahkan disaat hari – hari tersulit yang pernah ada. Aku tidak bisa menyembunyikan betapa Aku sangat khawatir Dia terombang – ambing sendiri. Dia bahkan sampai harus tinggal di Secret Himanega Kampus Unsimar karna tidak memiliki banyak pilihan.
            Aku bertahan semampuku bukan hanya untuk membuktikan Aku mampu setia. Tapi, untuk mencoba permainan yang ditawarkan Takdir. Segala tentangnya berubah dengan cepat. Basicly… Aku tidak cukup nyaman dan Aku sulit untuk ikut menyesuaikan beberapa sikap untuk keadaan ini, Keadaan yang memaksaku berubah dan menguatkan hati jika Aku bersama Seseorang yang lemah.
            Seseorang yang hanya menjadi bayangan, bayangan yang terus berjalan dan melewati semuanya tak peduli apapun itu. Seseorang yang hanya tau jika tujuannya hanyalah berjalan, dan terus berjalan.. Hingga bisa sampai disatu titik kejenuhan.
            Banyak yang Aku pikirkan.
“Bagaimana Kau bisa bertahan hidup ?”
            Pertanyaan itu spontan menjadi susunan kalimat yang cukup membingungkan antara Kita, karna Dia tidak sedang memiliki kerja dan Aku khawatir tentang itu.
“Bagaimana Kau bisa membiayai kuliahmu ?”
            Mungkin malah Aku yang terlalu banyak mengeluh, Hari itu di bawah pohon mangga samping rektorat Unsimar. Dan itu pertama kalinya Ia terus diam dihadapanku.
            Sampai pada menit – menit berikutnya, tidak ada yang terjawab dengan pasti untuk rasa gelisah yang Aku derita. Tapi, Aku yakin Dia sedang memutar otak untuk setidaknya bisa melakukan sesuatu demi bertahan hidup.
            Ianya hanya mengantarku berjalan gontai ke arah kelas Ekonomi Manajemen yang Aku duduki. Hari itu bahkan masih sangat pagi, dibulan puasa yang tidak memiliki cukup ruang untuk kuliah malam. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana hawa-nya ketika diharuskan mandi subuh-subuh dan ke kampus tepat jam setengah 6, hanya cukup satu kata “Dingin”.
“Boleh ku pinjam handphone-Mu kan ?”
ujarnya sembari menggenggam erat nokia 6600 yang dulu pernah Aku miliki, Aku mengangguk.
            Aku masuk dalam kelas dengan langkah berat dan perasaan yang selalu membuatku merundukan pandangan, Satu hal yang ada dibenakku hanya kalimat ini :

Aku janji tidak akan meninggalkanmu.. Kau bisa menyuruh orang untuk membunuhku jika Aku meninggalkanmu.

            Tapi, terlalu ngeri bagiku jika Ia bisa serta merta melupakan janjinya, karna keinginanku terlalu kuat jika bertahan untuk tetap membantunya melewati masa – masa sulit yang terdera hidup padanya.
            Aku belajar seperti biasa. statistic yang membiarkan angka – angka masuk dan berkeliaran dalam otakku, dan menghitung beberapa rumus yang justru membuatku sesak nafas. Hufft… dan yang lebih parah daripada itu ialah beberapa teman yang malah bertanya padaku tentang apa maksud soal Mr. Palata.
            Hmmpp… Nan mollayo Tapi, hanya itu satu – satunya cara untuk menyandang gelar tercinta ‘Mahasiswa’. Usainya, Aku ke secret Himanega menemui Triez. Dia bersandar lemas di dinding tanpa ekspresi, Aku tersenyum semampuku. Dia mendongak lalu menarik lenganku untuk duduk disampingnya.
            Setahuku Dia bukan pemakai narkoba. Jadi, Aku tidak terlalu khawatir saat menatapnya seperti orang sedang sakau. Dia menatapku dalam, beberapa Orang yang berada dalam secret mendadak keluar. Menyisakan Aku dan Dia di ruang kecil itu tanpa kata.
“Jawab pertanyaanku se-singkat mungkin, Vhy..”
“Kau kenapa ? jangan se-serius ini, ini tidak menyenangkan” keluhku.
            Aku menyenggol pundaknya berharap Ia tersenyum. Tapi, tak berhasil.
“Siapa cowo di recorder Hp-mu ini ? Kenapa Dia menyanyi untukmu ?” tatapnya tajam
            Ia memutar ulang rekaman percakapanku dengan Adhy, Aku bahkan tidak bisa mencoba menjelaskan apapun tentang semua ini. Karna itu kesalahanku.
“Triez, itu..”
“Jawab saja ! siapa Dia ?” Dia membentakku untuk pertama kalinya.
“Bisanya  Kau berhubungan dengannya, sementara masih ada Aku. Vhy ? apa Kau lupa Aku bertahan di Poso karna siapa ?! Aku makan atau tidak makan, hanya untuk tetap berada disini didekatmu. Aku bisa saja pergi, pulang ke rumah Nenekku di Palu. Hidup akan lebih baik disana. Tapi, Kau melakukan ini ?” gertakkannya membuatku ketakutan sampai tidak berani membuka kepalan tanganku. Aku menangis.
“Jawab saja, Vhy... !!!” Dia nyaris membanting handphone-ku.
“Rekamannya sudah lama, maafkan Aku karna terus menyimpannya” isak-ku
            Triez  dan Aku, mempunyai panggilan Kami sendiri {Mimi & Pipi} Jadi, kalau Dia memanggilku hanya dengan namaku saja, itu artinya Dia sangat-sangat-sangat marah denganku.
“Kau mencintai Adhy ?”
            Pertanyaan yang selalu menjeratku, Aku tidak tau apa yang Aku rasakan terhadap Adhy. Aku tidak begitu tau apa itu Cinta dan itu membuatku bingung.
“Aku hanya… kesulitan melupakannya” jawabku dan Ia merunduk, Ia meletakan Handphone-ku dengan lemas lalu memegangi kepalanya.
            Dan semuanya hening.
            Andai Dia tau apa maksud jawabanku, Aku terlalu lama dengan Adhy dan itu membuatku terbiasa, Jika saja Aku bisa mengatakan ini :

Ku mohon mengertilah perasaanku, Aku belajar melupakannya setiap hari. Jika Kau bisa mengerti. Maka, bantulah Aku agar Aku bisa dengan pasti menyukaimu. Karna dengan begitu, Kita bisa saling memberi ruang untuk tidak saling menyakiti.

            Aku mendekap erat tubuh dinginnya yang Ku biarkan membeku, Karna Aku telah menyisipkan riak – riak luka dengan sengaja. Ia menghapus air mataku
“Maafkan Aku” uraiku sesak
Ia hanya mengangguk tanpa ekspresi. Saat itu segala perasaan berkecamuk menyusuri hatiku, yang mungkin pula berlaku baginya. Sebenarnya kata – kata didunia ini tidak terlalu cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaan seseorang.
            Bagiku, cinta, suka dan sayang itu adalah rasa yang berbeda – beda.
Dan Aku tidak cukup mengerti, Aku masuk kategori yang mana.
“Jangan lakukan ini lagi. Vhy.. Cowo manapun yang mendekatimu selain Aku, Aku bisa saja membunuhnya”

~~~
            Hampir tiap hari Aku bisa bersamanya, Cuaca panas kota Poso yang tidak pernah berubah. Selalu cukup menggosongkan tubuhku, dan melihat beberapa perbedaan dari Triez  yang dulu dan Triez  yang sekarang. Karna kini Ia terlihat sangat kusam, kumal dan sering keringetan.
            Hidup yang telah mengubahnya, merubah fisiknya jadi semakin buruk. Tapi, satu yang Aku sadari jika hatinya masih selapang dulu untukku.
            Aku sangat egois, dengan beribu tuntutan yang harus Ia penuhi. Tapi, anehnya Ia tetap mencintaiku dengan tulus, apapun yang Aku lakukan agar Dia membenciku, semua itu tidak berhasil dengan mudah. Karna Ia tetap tersenyum sabar atas sikap egois yang Aku berikan.
            Aku bertemu Koko, senior di Fsip.
“Triez  mana ?”
“Seharusnya Kau tau Dia dimana”
“Maksudnya ?” Aku menatap prihatin
“Vhy, mungkin Dia tidak cerita. Tapi, seharusnya Kau sadar, apa yang dilakukannya untuk bertahan hidup. Dia jadi tukang ojek Vhy.. Demi tetap ada disini, demi Kau. apa Kau tidak kasian ?”
“Aku tidak tau”
“Dan.. itulah, setidaknya Kau sudah tau !” lalu Ka’Koko pergi.
            Aku diam, dalam perpustakaan Unsimar. beberapa jam kemudian Triez datang lalu duduk membawa buku disampingku.
“Aku juga harus mencari tugas, Mi” bisiknya
“Kenapa Kau tidak cerita ?”
“Aku pikir tugasmu di kelas Ekonomi lebih banyak daripada tugasku di Fsip. Jadi, untuk apa harus ku ceritakan ?” Dia tersenyum
“Bukan itu. Tapi, tentang yang Kau lakukan selama ini. Aku pikir Kau mendapatkan kerja layak, kenapa Kau tidak cerita jika Kau jadi tukang ojek pake motornya Ka’ Koko ?”
“Jangan berisik, ini perpustakaan” kecamnya, Dia menarik lenganku keluar di parkiran.
“Kita perlu bicara, Triez”
“Apa Kau lapar ? Tengah hari seperti ini, mau makan apa ?”
“Triez !!!!” teriakku gahar.
Dia berhenti di depanku, Aku menangis.
“Kenapa Kau menangis ?”
“Mungkin, seharusnya Kau pulang saja ke Palu. Jangan melakukan ini lagi untukKu, jangan melakukan apapun. Cukup pergi saja dan hidupmu akan jauh lebih baik, Aku tidak bisa melihatmu bertahan sesulit ini untuk hidup, Kau akan mati. Pergi saja dan Tinggalkan Aku”
“Jika Aku pergi meninggalkanmu, Aku juga akan mati. Aku akan tetap disini, Kalaupun harus mati, Aku akan mati untukmu, dihadapanmu. Kau tau ? Aku mencintaimu”
            Aku tersandar lemas di tembok, Dia menggenggam erat tanganku. Ia selalu menjadi seseorang yang hangat untukku, Tidak peduli bagaimana sulitnya Ia untuk bernafas, Ia selalu membagi udara miliknya untukku. Tanpa takut jika Ia tidak memiliki udara untuk Dirinya sendiri.
            Ia membawaku ke puncak Bukit BuyungBoyo, Dimana seluruh Poso bisa terlihat dari ketinggian itu. Puncak yang dipenuhi sekelebat bunga alang-alang putih, Angin berhembus membantu Kita melepaskan penat dihari itu. Tidak peduli seberapa panas matahari menyengat, itu tetap terlihat sejuk dibenakku.
“Kenapa berhenti dipohon ?” tatapku
“Aku takut ketinggian” ujarnya tersenyum
“Ini pertama kalinya Aku kesini, dan itu denganmu” Aku merentangkan tanganku layaknya sedang terbang, angin di bukit bertiup kencang.
Apa.. Kau bahagia ?” Aku meliriknya sepintas
“Selama ada Kau, Aku bahagia”
“Benarkah ?”
            Dia mengangguk pasti, Aku memilih bersandar di pundaknya. Aku juga bahagia.


Fairy Utopia
~~~
“Aku selalu berpikir, apa setiap musim itu sama ? Entah kenapa, sejak Aku mengenalmu hujan jadi sering turun saat malam. Aku jadi kalah saing”
“Karna sabit jadi sulit terlihat ?” tatapnya
“Kau tau, Dokter Pribadiku bilang Mataku seperti bulan sabit. Karna itulah Aku benci melihat bulan purnama, terlebih saat sabit akan muncul. Hujan sudah deluan turun, Aku benci hujan” gerutuku di teras secret The Lovers  Jalan pulau Bali.
“Kalau Aku jadi Hujan, Apa Kau tetap membenci Hujan ?”
“Kau ingin jadi hujan ? Tapi, jika Kau jadi Hujan bagaimana Kita akan bertemu ? Jika Hujan turun, Sabit tidak akan terlihat. Begitupun sebaliknya”
“Jadi, tetap akan membenci Hujan ?” tanyanya lagi
“Tidak kalau Kau memaksa” ujarku, Dia tertawa renyah.
            Triez  itu lelaki hujanku, Aku bahagia selama ada hujan dan anehnya.. Selalu saja hujan turun disaat malam ketika Kita bersama, seperti kebetulan.
            Malam tahun baru 2011, Aku bersamanya di atap rumah Aldy. Saat Dia bilang akan berhenti kuliah dan terus ikut proyek Atta di Palu, Aku tidak memberi sanggahan atau setidaknya pilihan yang Ia inginkan. Aku hanya berharap Ia tidak menyesali keputusannya.

~~~
“Kau serius berhenti kuliah demi proyek ?”
“Iya” Angguk-nya
“Palu itu lumayan jauh, ya ? Kita mungkin akan jadi jarang ketemu”
“Atau Kita kawin lari saja ? Kita bisa tinggal di Palu” tawarnya dan spontan Aku tertawa.
            Aku pikir itu guyonan terbaru yang bisa dilontarkannya padaku. Tapi, Ia sama sekali tidak merubah ekspresi.
“Aku serius, Vhy..” tadahnya
            Dan spontan pula Aku mengerem kaget tawaku, Sebenarnya Ia nampak lebih lucu. Tapi, Aku tidak mungkin tertawa lagi.
“Kau mau kan.. menikah denganku ?” tatapnya
“Menikah bukan hal yang gampang”
“Aku tau ! Aku sudah memikirkan semuanya, Kita hanya harus membeli baju pengantin terlebih dahulu” ujarnya, Lalu Ia jongkok di hadapanku di tengah lapangan Sintuwu Maroso.
“Apa yang Kau lakukan ? berdiri” pintaku
“Aku sedang melamarmu” Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong sweaterz-nya
            Aku tidak melihat apapun.
“Seharusnya, ditanganku ada cincin untukmu. Tapi, dimana ya ? Apa Aku menjatuhkannya ? ya ampuun, Aku lupa.. !!!! Aku kan tidak punya uang untuk membelinya” ujarnya
            Aku tertawa, Dia tersenyum lalu mencabut satu rumput di lapangan. Merakitnya menjadi bentuk bulat dan menyematkannya di jariku.
“Suatu hari nanti, rumput ini akan berubah menjadi emas dengan permata yang besar di atasnya. Seperti itulah cincin pernikahan Kita” ujarnya
            Aku tersenyum, air mataku jatuh.
“Jangan menangis, cukup katakan.. Pipi, Aku mencintaimu” perintahnya.
Aku menggeleng. “Tidak mau, Aku tidak mencintaimu. Aku membencimu” isakku.
Dia tersenyum, menghapus air mataku.
“Kapan Kita menikah ?” tanyaku
“Besok juga bisa” Aku menatapnya sinis. Dia tertawa lagi.
“Tunggulah, Aku lulus dengan S1 ku dari Unsimar. Ku beri Kau waktu untuk bisa mewujudkan suatu hari nanti   mu itu, Lalu Kita akan menikah” ujarku.
“Baiklah, Jika Kau memaksa”
Aku memukul dadanya, lalu Dia tertawa. Aku rasa, Kami benar – benar dua orang bodoh yang saling mempercayai janji masing – masing. Janji yang Kami sendiri tidak tau, mampu untuk menepatinya atau tidak.
            Kembang api di langit Poso saling berbalas, saat malam Tahun Baru mendentangkan jam Pkl.00.00. Aku duduk menatapnya di depan warnet dengan Nhanank, Ia sibuk membantu Teman-temannya di Jalur Dua membakar Kembang Api.
            Aku percaya dengan semua suatu Hari nanti, yang Ia janjikan.
            Aku percaya seperti orang bodoh.
            Dia memainkan gitar dihadapanku, matanya mengambang tanpa khayal. Lalu menyanyi tanpa harap, Aku tidak mengalihkan tatapanku karna Ia tampak seperti zombie yang hidup dan mati pun tak jelas.

Knock knock knocking on heavens' door,

Mama put my guns in the ground,
I can't shoot them anymore,
That long black cloud is coming down,
Feels like I'm knockin' on heavens' door

            Beberapa Hari setelah tahun baru, semua masih sama seperti dulu. Aku mulai kerja tanggal 5 Januari 2011 di Dishub Komunikasi dan Informatika sebagai staff Infokom, padahal Surat Perintah Tugasku sudah berlaku sejak 10 Desember 2010.
“Mau makan Tinutuan di ujung jalur dua?” Dia mengajakku makan siang, Aku memang selalu makan siang dengannya atau bahkan membawaku bolos kerja untuk menuju tempat – tempat yang cukup anneh.
“Ini yang namanya Puncak bogor ? Tidak ada yang menarik” gerutuku
Aku hanya menatap hijaunya pohon liar dan bangunan Kantor PU yang belum kelar, serta Tugu lembomawo bersimbol Pedang dan Belati.
“Memang tidak ada yang menarik, Aku hanya ingin Kau tau tempat ini”
“Kenapa ?” tatapku
“Kau tau, Pohon besar itu ? disitu adalah tempat Paranormal membuang setan yang merasuki tubuh manusia”
Eihh, Mulai lagi mengarang bebas”
“Tidak percaya ? inilah yang Aku khawatirkan, makanya Aku mengajakmu kemari agar setidaknya Kau tau” ujarnya yakin.
“Sebenarnya diantara Kita, siapa yang pendatang ? Kenapa selalu saja Kau yang menjadi hebat dengan penyakit sok tau mu itu” gerutuku, Aku berlalu turun dari sana.
“Vhy.. jangan pergi dulu, Aku hanya ingin. Kau pergi ke tempat – tempat yang baru pertama Kali Kau sadari bersama denganku. Meskipun ini bukanlah tempat yang menarik” teriaknya
            Aku menghentikan langkahku.
“Jadi, Apa Kau bisa melihat setan juga ?” tadahku
“Aku pikir, begitu”
“Aku juga bisa, Setannya tepat dihadapanku” tunjukku padanya.
Dia membuang nafas kesal lalu mengejarku
“Berani, ya ?” ancamnya, Aku berlari menahan tawaku.
            Aku selalu melalui banyak tempat untuk pertama kalinya, bersama dengan Dia. juga lorong – lorong kecil di sekitar Poso yang baru Aku lalui atau bahkan Aku baru menyadari jika lorong – lorong seperti itu ada disekitarku.
“Saranghanikka, Vhy Aepril..”
Dia menulisnya di dinding facebook-ku, Aku bisa terus membacanya berulang – ulang dengan bangga. Tanpa harus dijelaskan, Dia pasti mengerti. Ada banyak kisah di dunia ini yang lebih indah atau bahkan lebih sedih untuk Kita lalui, Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dan Hari itu lagi – lagi Aku merengkuh tangis di hadapannya.
“Kepalaku.. sa kit..” keluhku,
            Aku memukul – mukul kepalaku, sakitnya sangat menyiksa. Aku tidak sanggup menahannya sampai air mataku terus mengalir.
“Tenanglah, sayang..” Dia mendekapku, Hari itu Aku dikantor dan Ia membawaku ke Kost-nya.
            Obatku habis, satu – satunya apotik yang menyediakan obat itu kehabisan stok.
Jika.. saraf mataku rusak, Jika.. Aku benar – benar tidak bisa melihat lagi, bagaimana ?”
“Aku akan tetap bersamamu, seperti ini ..”
“Aku takut dan Aku kesakitan ..”
“Apa yang harus AKU Lakukan ?” Ia bertanya padaku seperti nyanyian pilu yang sering Aku abaikan, seperti kicauan burung yang tidak bisa Aku pahami.
            Aku merasakan air matanya jatuh di atas wajahku.
“Jika itu sampai terjadi, Aku akan menjadi matamu”
terhenyak Aku mendengar ucapannya yang semakin memancing perih hatiku.
“Aku tidak pernah bertemu orang sebodoh Kau. Tapi, Kau tau apa ? Aku benar – benar bahagia, walau Aku harus kesakitan selamanya” ujarku.
“Jangan menangis..” Ku usap air matanya.
            Bulan sabit benar – benar tertutup awan mendung.
Ia mungkin telah menjadi Pangeran sesungguhnya di Fairy Utopia (Dunia khayal peri) yang Aku ciptakan. Dia bahkan ikut mendekap mentari agar Aku tidak kepanasan. Ada berbagai kalimat memuji di dunia ini. Tapi, Aku menyebutnya my sweet enemy.
            Karna, Ia seringkali memancing amarah egoisku. Aku sering memukulnya dan memarahinya dengan geram. Tapi, yang Ia lakukan hanyalah tertawa. Jika, Ia berpaling selangkah dariku, Aku sudah berpikir Dia ‘menyerah’ terhadapku dan itu membuatku berlari seribu langkah darinya.
            Tapi, Dia hanya perlu mengejarku dua langkah untuk bisa membuatku berhenti berlari.
            Aku hanya tidak ingin hidup sebagai benalu dalam hatinya, Aku mungkin akan buta jika saraf retinaku semakin rusak. Aku bahagia bersamanya, menjalani cinta yang terlalu dicintai.
            Aku bahkan menangis untuk kesendirianku, Aku takut menyakitimu karna hal itu mungkin akan menjadi kenyataan suatu hari nanti. Jika Kau benar – benar menyadari ini, adakah hatimu tidak akan tertutup menyadari Aku sedang kesakitan ?
Triez , Cinta itu apa ??

~~~
            Kami di tegalrejo hari minggu itu, Dia mencuci motornya di pemandian umum sementara Aku mencuci baju di sebelahnya.
            Aku tidak tau mencuci baju dengan tangan, dan Ia terus menertawaiku. Aku menampilkan banyak hal bodoh dihadapannya dan itu membuatku malu.
            Tapi, Dia malah datang menghampiriku.
“Sini, Biar Ku cucikan”
“Apa.. Aku harus tukaran mencucikan motormu, juga ?” tatapku
“Tidak, motorku sudah selesai” Dia mencipratkan air sabun ke wajahku lalu tertawa.
“Ini akan terdengar menyedihkan, Triez  menyukai Vhy yang tidak bisa melakukan apapun. Tidak bisa mencuci baju, Tidak bisa memasak, Tidak bisa semua -  semuanya..” ujarku.
            Dia berhenti mengucek, lalu menatapku dramatis.
“Kau tau ? Sekali Aku mencintaimu, Aku akan mencintaimu sekali” tadahnya.
            Aku terunduk bak padi di hadapannya, Kalimatnya terdengar rapi membuatku gagu.
“Kau tidak perlu melakukan apapun, Karna Aku bisa melakukan semuanya” ujarnya lagi.
Aku hanya memasang senyuman semampuku,
Karna yang sebenarnya terjadi adalah Aku terharu sampai ingin menangis.
            Ini cukup aneh dan menggelikan, semua yang Aku uraikan adalah Kisah nyata. Tapi, jika Aku terus menela’ah segalanya, ini terlihat seperti sebuah scenario atau mungkin Takdir sedang bermain – main denganku ?
            Triez  berhenti kuliah karna mengikuti proyek Atta. Tapi, Proyek itu nyatanya tidak berhasil, semuanya mines alias Gagal Total. Atta bangkrut, sampai harus menjual rumahnya di jalan Pulau Flores.
            Aku sempat khawatir jika Triez akan berkeliaran seperti gelandangan yang menyerupai Tikus Got. Tapi, masih ada Dewi fortuna untuknya di Dunia ini.
            Dia memiliki banyak pilihan tempat tinggal dari teman – temannya, Sebuah kamar gratis di Kost Gembel Lorong Jayani dengan syarat Dia harus bekerja sebagai penagih TV kabel langganan milik  5Vision.
“Kulitmu gosong ?”
“Bagaimana tidak gosong ? seorang tetangga, memintaku untuk menggali sumurnya bersama Ridwan Kakaknya Merlyn seharian ini”
“Benarkah ? Aku tidak percaya ini, akhirnya Aku jauh lebih putih di banding Kau” ujarku bangga.
            Bagaimana tidak. Triez  yang dulu Aku kenal pertama kali adalah seseorang yang sangat feminism, Anak rumahan. jika Aku sms ‘Lagi ngapain ?’ Dia pasti jawab ‘Lagi luluran dikamar’ HaaAA ??! Aku kalah saing dengannya.
            Tapi, itu dulu saat Dia masih di Gang wisata I. Kini, keadaannya 100 % ditambah 180 derajat berubah drastic.

06 Juni 2011
Aku tepat setahu dengannya, Tidak ada perayaan special untuk itu. Kami hanya bermalam minggu bersama di Caffe capucinno pantai penghibur Pelabuhan Tkt. II Poso.
            Aku memesan steak kentang dan itu sangatlah panas, sampai waktu rasanya hanya habis untuk meniupi kentang goreng agar cepat dingin.
“Sudah 1 tahun..” ujarku, Dia mengangguk lalu menyuapiku kentang goreng
“Buka mulut, Aaaaa….” lalu saos tomat mendarat di hidungku.
“Dasar Tricket” keluhku, Dia tertawa sesukanya.
Aku meraih tisu untuk membersihkan sisa saos di hidung.
“Karna Aku sudah mencintaimu. Jadi, Kau harus mencintaiku” tatapnya
            Aku terengah saat Ia mengungkapkan hal yang selalu ingin Ku dengar.
“Aku pikir, Aku belum pernah mencintai atau bilang cinta pada seseorang” ujarku.
Dia meraih jemariku untuk menunjuk laut.
“Kau lihat ? ada cahaya di gelapnya laut Poso” ujarnya
“Pemancing ?”
Dia mengangguk “Iya”
“itu juga cahaya” tunjukku ke permukaan laut yang terbias lampu – lampu perumahan di seputar pinggiran Kampung Ikan Kelurahan Lawanga.
“Kau tau apa bedanya ?”
Aku menggeleng
“Cahaya yang dipakai pemancing saat malam adalah untuk Bangun, sementara cahaya yang dipakai perumahan itu saat malam adalah untuk Tidur”
“Benar” tangkapku.
Dia tersenyum lalu mengecup keningku disana, Dipantai yang bermandikan pantulan cahaya. Aku ingat saat setahun ini, Kami belum cukup saling memahami masing – masing diri. Karna mungkin Cinta itu sulit sehingga Kami terlalu bodoh untuk saling mengerti.
“Aku mulai menyukai pantulan cahaya di permukaan air laut saat malam” ujarku.

~~~
            Karirku tidak sepenuhnya mulus dikantor, Aku pindah ke secretariat lalu Pak Jip memintaku menjadi staff-nya di Bagian Perencanaan Anggaran (program). Ketika Aku mulai menyukai pekerjaan menghitungku, Cobaan kian datang..
            Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Bapak Amir Kiat, Memintaku untuk bekerja di kantornya bagian pariwisata. Karna bahasa inggris yang Aku kuasai bisa menjadi tourist guide dalam setiap acara kebudayaan Poso.
            Aku sangat tertarik. But, U know what ? yah.. itulah yang namanya cobaan, selalu memikat.
“Mendapatkan kerja bagimu sangat gampang. Tapi, kenapa sulit untukku ?”
“Tapi, kan Aku hanya staff kontrak.. Gajinya 3 bulan sekali” kilahku
“Di Poso ini, Mau masuk di swasta saja harus ada 3 K”
“Apa itu ?”
“Komisi, Koneksi dan Keluarga. Sementara Aku tidak memiliki satu pun diantaranya, Aku hanya sebatang kara. Di daerah yang cukup asing, beruntungnya kalau disini masih banyak Orang yang Ramah” Triez  membakar rokoknya lalu membuang batu ke ombak yang berdebur.
            Siang itu, Dia membawaku ke Pantai yang cukup jauh di Bagian Medale. Pantai berbatu di pinggir jalan menuju Ampana, Dia mengikuti Seorang Ayah yang ditemani Anak kecil mencari kerang di balik batu-batu karang besar.
“Tunggulah di pasir, Aku akan mencari kerang seperti mereka”
“Sudahlah, Kau tidak akan mendapatkan apapun” teriakku.
            Beberapa menit berikutnya, Dia kembali dengan lesu lalu terbaring di Pasir.
“Dapat ?”
“Tidak, kerangnya sembunyi dariku” ujarnya putus asa.
            Aku memasukan pasir ke dalam baju dan celana pendeknya, Dia tertawa.
“Hei..” keluhnya
            Aku senang menatap giginya yang terlihat saat Ia tersenyum atau bahkan tertawa, Dan Aku yakin Dia sadar itu. Pantai berpasir putih itu Kami tinggalkan dengan mengendarai motor yang dijuluki anak – anak sebagai Mawar kuning.
“Kerangnya, mungkin tidur siang ?” tanyaku
Dia mengangguk “Iya”.
            Aku sadar Kami berada di bawah usia labil. Tapi, usia labil ini juga yang membuatku bisa merasakan berbagai emosi saat menyadari jika Kita terus tertawa dan menangis bersama di kolong langit, tertawa karna sedih sekali pun.

“Kau tau satu hal dariku, dulu ?”
tatapku saat Kami di secret Gembel Lorja, dibawah Pohon gersen yang sering Aku kunyah dan harus sesekali bertabrakan dengan daun – daunnya yang kerap rontok hingga mengotori latar di sekitar keran air.
“Apa ?” Dia mendongak ke arahku
“Dulu, Aku mempunyai Sepupu cowo. Namanya, Rafly.. Om ku memintaku untuk menjodohkan ku dengannya. Tapi, Kau tau apa yang terjadi kemudian ?”
Dia diam mendengarkanku
“Dia meninggal, Dia kecelakaan motor di hari saat lebaran dimulai dan itu membuatku takut”
“Apa yang ditakutkan ?”
“Meninggal mendadak seperti itu” jawabku. Air mataku berurai setetes demi setetes dihadapannya dan Ia memelukku erat.
“Semua orang pasti akan meninggal, kan ?”
Aku mengangguk mendengarnya, Dia menyeruak air mataku “Lalu ?” ujarnya
“Hanya saja, rasanya aneh. Seseorang yang dekat denganku, tiba – tiba pergi begitu saja. Aku tidak merasa sedih, hanya saja rasanya aneh.. seperti baru melihatnya dan tidak akan terlihat lagi..” jawabku
            Aku terdiam dungu, Dia menenangkanku. Tidak memperbolehkan Aku berucap panjang, membuat semuanya hening.

Enchanted Cales
~~~

Sender  : Vhy
To         : Triez
Text      : …

     “Makasih sudah mau menjadi pacar yg
 Sangat baik, Pacar yang mau dibohongi     meskipun tau Aku bohong.
  Pacar yang sabar dan bertahan dengan
      Orang sepertiku,
   & maaf karna Aku tidak bisa menjadi
       Pacar yang sempurna untukmu…”


Sender  : Triez
To         : Vhy
Text      : …

          Tidak juga, ku usahakan terus ku
   pertahankan cinta yang slama ini ku
   cari dan akhirnya sudah ku temukan.
 Apapun yang terjadi Ku tidak perduli.
       Ku pertaruhkan nyawaku demi 
          Mendapatkan Cinta yang slama
             ini ku cari…”

            Dia selalu menjadi yang pertama dihidupku, untuk beberapa tempat yang baru pertama kali Aku pijaki, Air terjun Kilo { Kilow waterfall }. hari itu lebaran Idul Adha dan Kami mendarat ke Kilo untuk pertama kalinya.
            Scenary yang Tuhan ciptakan luar biasa sejuknya, Indah memang dan Ia selalu membantuku untuk menyebrangi batu – batu diantara derasnya genangan air terjun yang mengalir diantaranya.
Brrbrr… Dingin..” keluhku dan itu membuatnya tertawa
            Kami duduk di bebatuan besar, air beku menenggelamkan lututku.
“Saat pertama kali, apa benar Kau yang menembakku lewat sms itu ?” tanyaku,
            Aku selalu penasaran tentang ini “Iya, kenapa memangnya ?”
“Aku tidak percaya, pasti orang lain. iya kan ? waktu Kau menembak Suhada lewat sms juga bukan Kau yang mengirim sms-nya” gerutuku
“Waktu Suhada, memang bukan Aku yang menembaknya. Itu kerjaan temanku”
“Apa itu berlaku buatku juga ?”
Dia menghela nafas panjang sembari menunjuk air terjun
“Sumpah demi Tuhan, Demi air terjun Kilo. Aku sendiri yang menembakmu lewat sms waktu itu.. Percayalah” ujarnya
            Aku menggigit ujung bawah bibirku yang beku, untuk menyingkirkan dingin. Aku menikmati apa yang Dikatakannya, Aku selalu mengungkit masalah ini untuk sekedar mendengar nada bicaranya jika sedang bersungguh – sungguh.
“Aku tidak percaya, Pipi harus menembakku lagi” Aku memasang wajah lugu
“Baiklah..” Dia menyerah
“Vhy.. Aku jatuh cinta, maukah Jadi Pacarku ?”
“kenapa kalimatnya selalu sama, tidak bisakah ganti yang lebih romantic ?” tadahku
“Romantis itu harus dibayar dengan ciuman, Apa Kau mau Aku cium ditengah banyak orang seperti ini ?” Ia menatap sekitar.
Ahg.. Tidak ! tidak..” Aku menggeleng gagu, Dia tertawa.
“Jadi, Apa Aku diterima ?” tadahnya
“Bagaimana jika Ku tolak ?”
“Sayangnya, Aku tidak menyediakan penolakan sebagai pilihan jawaban” kecamnya
“Baiklah, Aku terima saja Kalau Kau memaksa” ujarku
“Dassar.. Anak ini” Dia mengobrak abrik rambut panjangku
“Lihat, Kau menghamburkan rambutku. Tidakkah Aku terlihat sebagai hantu Kuntila**..”
“Jangan menyebutnya disini, Kau tau kan ada yang pernah terpeleset dari air terjun lalu mati. Jika Kau menyebutnya, Dia akan mengikutimu”
“Mengarang bebas..” gerutuku.
            Dia manatapku sinis, lalu memainkan sebelah mata kirinya. memancing tawaku.

Love is Cinta

Bahkan hanya dengan senyummu, Aku mampu bertahan sejauh ini,
meski Aku hanya sebatang kara. Tapi, Kau sudah cukup mewakili segalanya dan menyita
seluruh perhatianku. Seharusnya Aku bangga melihat beribu cita dan puji
Tapi, saat diharuskan melihat diriku sendiri,
Aku benar-benar malu, Aku bukanlah Aku yang dulu Ku kenal.
Aku hanya bertahan untuk tau seberapa jauh Kita mampu bersama,
Memenuhi ruang tuk hilangkan kesal jadi tawa dan harapan jadi nyata.
Kau tlah meremukan jantungku dan karnanya Aku jadi sulit bernafas didekatmu
dan Aku tidak akan sanggup jikaBernafas Tanpamu’

            Triez  sangat nge-fans sama Judika Idol yang kini masuk ke Group band Dewa. Republik Cinta Management. dan kebetulan saat itu Judika hadir di Poso dalam sebuah festival yang digelar sebuah Bank ternama di Indonesia.
            Aku menikmati konsernya bersama Teman-teman Gadisku, Dewy, Merlyn dan ada sepupuku Mba Idha yang Ku ajak ikut serta. Karna Triez  tidak ada disini, Dia ke Palu untuk beberapa urusan yang tidak Aku mengerti.
“Kenapa Cuma band-band indie ? Judika –nya mana ?” gerutuku.
Beberapa saat kemudian, Judika hadir dengan pesona-nya yang lekat.
“Lihat, Judika hanya mau muncul disaat Aku ada disini” Triez  mengagetkanku dengan bangga.
“Triez  ? bukannya ke Palu ?”
“Kau tau Aku menyukai Judika, Palu bukanlah halangan” ujarnya
“Bagaimana bisa Kau menemukanku di antara banyak orang dalam konser ?” tatapku tak percaya.
“Aku bisa merasakanMu dalam radius 100 Kilometer” cibirnya.
Katakan !” Judika berseru
hoWwoOw !!” Teriakku dan semua penghuni konser yang rata – rata Slankers Community.
Pada Mama !! Cinta bukan  hanya harta dan Tahta ! Katakan !!!”
HowWoOw !”
“Pada PaPah ! Hanya cinta yang sejukkan Dunia !”

            Hal yang paling Aku takutkan dari kisah ini, hanyalah keadaan yang membuat Triez  sakit. Aku tidak mau melihatnya sakit. Tapi, Hal yang Aku takutkan malah menjadi kenyataan .
            Dia jatuh dari motor di Pertigaan  Kantor Bupati, Aku syok mendengarnya. Tapi, yang membuatku syok lagi ialah saat Ia kecelakaan semalam dan baru memberitahuku besok dijam makan siang.
            Sepertinya Ia mau membuatku mati pertama karna khawatir.
            Aku menelantarkan beberapa pekerjaanku dikantor, demi menjaganya di secret The Lovers yang telah berubah menjadi Tempat Perkumpulan Mahasiswa di Jalan Pulau Bali.
Ka’ Salim menegur “Triez dalam kamarku, Lukanya lumayan banyak”
“Iya, ka. Makasih..” Aku masuk, menatapnya terkapar.
Jika saja Aku diberi kesempatan mengatakan ini :
            Aku mohon jangan pernah sakit, …
                        Jangan pernah Sakit selamanya, jika Kau mencintaiku jadilah
                                    Seseorang yang kuat, dimana Aku bisa bersandar.


~~~
Dia selalu hadir menjadi seseorang,
            Seseorang yang selalu hadir disaat alarm minta tolong berbunyi dihatiku. Dan selalu saja mengabulkan permintaan – permintaan ku yang aneh, Hari itu dimana Aku genap 18 Tahun.
            Hujan turun, Dia membawaku ke warung Bakso milik Agung di perempatan antara Lorja dan Jadu. “Selamat ulang tahun” ujarnya
            Aku tersenyum, hidupnya makin lama Ku lihat bisa dibilang Lumayan.
“Mimi, Mau hadiah apa ?”
“Aku, mau..”
“Apa ?”
            Aku diam, Ku pikirkan jika Aku akan membuatnya memutar otak menyiapkan hal – hal yang Aku minati. Dia menatapku
“Tidak, ko’ Aku tidak mau apa – apa. Aku memilikimu saja sudah lebih dari cukup”
“Kenapa ? apa Kau takut, Aku tidak punya uang untuk memenuhi keinginanmu ? Ku pikir, Aku memang tidak mapan. Tapi, untukmu Aku akan berusaha”
“Aku tidak berpikir begitu. Tapi, baiklah jika Kau memaksa. Kau lihat sepatu itu ? Aku menginginkannya” Aku menunjuk sebuah sepatu di warung kecil.
            Aku sadar harganya tidak seberapa. Tapi, setidaknya itu tidak akan lebih menyinggungnya.
“Sepatu itu ?” tanyanya, Aku mengangguk.
“Tunggulah disini, Aku akan mengambilnya untukmu” Dia berlari menerobos hujan. Aku benar – benar ingin menangis, dalam Duniaku tidak pernah ada Seseorang yang rela berkorban apapun seperti Dia.
            Seseorang yang awalnya ku pikir sangat dingin, sangat pendiam dan tidak memiliki banyak Cinta. Karna ternyata, Aku mendapatkan banyak perhatian darinya, Dari seseorang yang kesepian karna ulah Takdir.
            Aku tidak banyak berharap jika kisah ini berakhir bahagia, Aku hanya berharap jika Dia bisa mengenang Aku dihatinya suatu hari nanti. Disaat Kita saling kesulitan menerima kenangan buruk dari sebuah kisah.


Stairway To Heaven

Kalo suatu hari nanti, Aku hilang.. Apa Kau akan mencariku ?”
Aku berusaha mengapung dalam air laut, Sore itu Sunset membias ke Pantai Pertamina. Dia berenang di seputarku.
            Terus terang saja Aku jenuh dengan hidupku, semua yang ada disekelilingku seperti pagar besi yang tidak bisa Aku lompati. ingin membuatku memberontak. Namun, tertahan.
            Entahlah kenapa Aku merasa Orang Tua-ku tidak memberiku ruang untuk berpendapat, Aku merasa Mereka tidak mempercayaiku. dan itu layaknya bom waktu yang membuatku sewaktu – waktu bisa meledak.
“Jangan sampai hilang, Kalo pun hilang pasti Ku cari sampai ketemu”
“Kau tau cita – citaku ?”
Dia menatapku
“Aku ingin mengumpulkan banyak uang, lalu kabur ke daerah baru, hidup dan kerja disana. Tanpa ada seorang pun keluarga yang tau, Aku ingin pergi sejauh mungkin dan hidup dengan caraku” ujarku lagi, air mataku menetes di ujung kelopak.
            Aku tidak pernah mau bekerja di instansi pemerintahan pada awalnya, Karna Aku tau mengabdi membutuhkan waktu yang lama sebelum terangkat menjadi Pegawai Negeri. Aku ingin bekerja di swasta karna mendapatkan uang dengan cepat. Tapi, itu selalu menjadi pertentangan dengan Papa, dan satu yang membuatku tertekan, Aku menerima gaji 3 bulan sekali lalu tiap bulannya pengeluaranku begitu besar.
            Andai Aku bisa bekerja di swasta, Aku tidak perlu meminta uang pada Papa lagi. Karna ketika Aku memintanya, Aku sangat tersinggung dengan kalimat apapun. Aku benci perasaan seperti itu.
            Tapi, Aku menyayangi Mereka, Sama seperti mereka sangat menyayangiku. Hanya saja, Aku benar – benar ingin mengatakan ini. Meskipun Aku tidak akan pernah bisa melakukannya.
            Aku bukan berasal dari keluarga super Kaya, Aku hanya cucu Pertama di Keluarga Hasan Muktadir Kartoredjo. Itu membuatku memikul beban yang berat sebagai Panutan bagi seluruh Adik di keturunannya.
“Kalo pun Kau harus benar – benar pergi, Aku akan ikut pergi denganmu” ujarnya dan seluruh khayalku terbang melebur.
“Kalo.. Aku tidak bisa denganmu, bagaimana ?” tatapku
“Kenapa ?”
“Kita dilarang untuk saling bertemu..”
            Pernyataanku membuat Kami terdiam beku dan air mataku mengalir dengan sepi tanpa isak, Ia menoleh dan menghapusnya dari belahan pipiku.

~~~
            Beberapa hari setelah mandi laut, Aku datang ke kost-nya.
“Mereka tidak mengizinkan Kita Pacaran ?”
Aku mengangguk
“Kenapa Mereka tidak menerimaku ? Apa.. Karna keadaanku seperti ini ? Aku tidak mempunyai apapun untuk bisa membahagiakanmu, iya ?” tatapnya.
Aku merunduk gagu.
“Mungkin, sejauh yang Mereka perhatikan.. Kau terlalu rock and roll” ujarku
“Lalu, hanya Pria berdasi yang patut atas Cinta, begitu ?”
“Mereka percaya atas apa yang Mereka lihat, bukan dengan yang Aku lihat. Jadi, Kita tidak akan bisa meyakinkan Mereka dengan caraku”
“Lalu, Aku bisa apa ?”
“Aku juga dengar ini, apa Kau peminum berat ? Seseorang mengatakan hal seperti itu padaKu” tanyaku, Dia membuang nafas kesal lalu tertawa renyah.
“Iya  ! AKu MeLakukannya ! Aku melakukan Apa yang Kau dengar ! Puass ??! Aku peMinum Berat ! Penikmat malam  ! apa itu menyakitimu  ? Aku  mencoba segala hal di Dunia hitam kecuali Narkoba ! Begitulah Aku hidup !” Dia berteriak geram dihadapanku.
            Aku diam, air mataku terus menetes tanpa suara. Dia menghidupkan rokok-nya, Aku berdiri lalu membanting apapun yang Aku dapatkan dalam kamar kost-nya.
“Aku membencimu, Bitch ! Tai ! ” teriakku.
            Dia datang memelukku, Aku memberontak sebisaku.
“Maaf, Aku hanya putus asa dengan semua ini” pintanya, Aku meredam emosiku saat di dekapannya. Air matanya menetes di pundakku.
“Aku benci !”
“Maafkan Aku, Vhy.. Aku hanya putus asa..”
            Hidup ini berjalan, mengubah seseorang menjadi lebih baik tiap harinya. Hidup dimulai dari nol, dimana Kami harus benar – benar di bawah untuk bisa berada di atas. Jadi, bisakah membiarkan Aku dan Triez  memulainya dari nol ?
untuk kehidupan Kami yang akan menjadi tanggung jawab Kami selamanya.

~~~
            Aku tidak pernah melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini. Tapi, Triez  lah yang mengorbankan segalanya demi Aku. Dan Aku sadar itu membuatku terbiasa.
            Untuk beberapa bulan terakhir, Aku berhenti minum suplemen mata. Karna Aku sembuh menurutku. Tapi, pagi itu dalam perjalanan ke kantor, Aku mendadak tidak bisa melihat untuk sekejap. Aku kehilangan pandanganku saat sedang mengendarai motor, karnanya Aku kehilangan arah dan keseimbangan. Aku jatuh dari motor yang Aku kendarai di Trotoar Penjual nasi bamboo desa Tonipa.
            Dengan kejadian ini, Aku tidak ke kantor juga tidak ke kampus seminggu penuh. Rasanya seperti mendapat cuti dadakan, Aku tidak bisa berjalan karna kaki-ku luka dan terkilir luar biasa.
            Tidak peduli Orang Tua-ku benci melihat Triez  . Tapi, Triez  tetap datang menjengukku, Dia membawa camilan dan makanan kesukaanku, Batagor.
“Cepat Sembuh”
Saat Ia berucap seperti itu dan segera berlalu untuk menghargai perasaan Papaku. Aku merunduk pilu menatap Ia pulang, Aku sedih dengan cinta ini. Sejauh apapun Kita bersama, Kita tetap tidak bisa saling memiliki.
            Papa menemukan foto-ku dengan Triez, lalu Dia merobeknya. Aku tau Mereka sangat membencinya, Aku memutar otak untuk itu. Tapi, Aku mengenalnya, Aku tau Dia seperti apa.
            Aku cukup lama bersamanya, satu setengah tahun Aku terus dengannya
            Aku cukup tau bagaimana sikap dan sifatnya.
Jadi, tidak bisakah Aku juga cukup dipercayai ?
            Kalau Kami jodoh, sekuat apapun Kalian runtuhkan. Kami tidak akan pernah terpisah. Tapi, Kalau tidak jodoh, sekuat apapun kalian pertahankan. Kami   pasti akan berakhir. Tolong biarkanlah Kami menjalani ini, dan biarkan Tuhan yang menentukan kami bisa berjodoh atau tidak.

~~~
Dalam naungan awan dingin dan sendunya alunan angin
Aku masih termangu dungu, berharap air mata langit turun hampiriku
dan bersihkan beban berat yang menyesakkanku
meski akhirnya aku pun tak merasa sedikitpun tersentuh.

            Seminggu berlalu dan Aku bisa mengfungsikan kaki-ku lagi, Aku kembali ke kantor dan melanjutkan kuliahku kelas Sore dan malam seperti biasa. Hanya saja bekas lukaku tidak mau hilang dan berwarna coklat tua dibeberapa titik, itu sangat memalukan karna Aku tidak pernah punya bekas luka sebelumnya.
            Aku bertemu Triez  di alun – alun jalur dua, rontokan daun akasia terbang ke arahku. Aku memesan beberapa tusuk siomay dan memakannya.
“Ayo, makan biar ku suap” ujarku
“Jangan seperti anak kecil” tandasnya, Dia menampik lenganku.
            Membuatku spontan mengerem senyum, Aku membuang siomay ditanganku lalu meninggalkannya. Tapi, Dia menahan lenganku, Aku berpaling lalu meludahi bajunya.
Dia tertegun menatapku.
“Vhy..!!”
“Kenapa ? kurang senang ? Aku juga kurang senang di bilang seperti anak kecil olehmu ! Ahg,.. Kau belum pernah pacaran sebelumnya ? sampai tidak tau Aku hanya mencari perhatianMu ? LOOSer ! pecundang ! Bitch !” makiku
“Jangan mamancing emosi-ku ! Aku cape berantem terus denganmu ! Kau ini kenapa, Vhy !!” ujarnya, Dia bahkan tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
            Aku memberontak lalu mendorongnya di dinding, Dia tersandar kasar. Aku meninggalkannya disana, mengendarai motorku menerjang rontokan daun akasia di aspal teduh.
            Dengan kesal Aku mengerem motorku diparkiran Dishub Komunikasi dan Informatika, Karna Aku kerja disana. dan air mataku menetes untuk sekedar sadar jika Aku keterlaluan padanya.
            Percayalah, untuk semua keegoisan yang Aku ciptakan, Aku menangisinya. Aku cukup sadar jika perbuatanku salah dan hanya bisa terisak  sendiri tanpa pernah meminta maaf padanya.
            Aku duduk diruang kerjaku, menyelesaikan beberapa pekerjaan di Microsoft excel yang belum Aku penuhi karna tertunda – tunda oleh jam kuliah. Dan Triez  mengirimi sms di Inbox-ku.
“Aku minta maaf kalo Aku salah”
            Aku diam lalu menghapus pesannya. Tapi, Dia terus mengirimiku sms yang sama sampai puluhan jumlahnya, membuatku gerah.
“Aku bosan denganmu, Kita putus”
itu yang Aku balas, membuat beribu panggilan tak terjawab masuk di log Hp-ku. Aku acuh tak acuh membiarkan Dia menelponku, tanpa ada niatku untuk menggubrisnya lagi.
“Jangan bilang seperti itu, keluarlah. Aku dibawah pohon mangga samping kantormu, Kita perlu bicara” Aku tetap diam pada posisiku.
“Aku menunggumu, keluarlah sebentar”
“Jangan buat Aku marah, keluarlah atau Aku akan melempar kantormu”
            Aku terhenyak membacanya, memaksaku keluar menemuinya. Dia memasang wajah anti virus menahan geram padaku.
            Berat langkah menemuinya, Dia membawaku ke 5Vision di Natuna. Meski Aku slalu menghindari tatapan maghnetnya, Ia duduk dihadapanku sambil meremas utuh jemari kecilku.
“Jangan pernah bilang putus” ujarnya, Aku diam mengunci diri
“Aku tidak pernah menyakitimu. Jadi, kenapa Kau menyakitiku ? Aku salah apa ?” tatapnya lagi, Aku mendongak kesal sembari melepaskan genggamannya.
“Aku tidak pernah menyukaimu, pernah kah Kau dengar Aku bilang mencintaimu ? Tidak, kan ? karna Aku memang tidak pernah mengatakannya. Jadi, lepaskan Aku ! Aku benar – benar bosan denganmu” jawabku.
            Aku membuatnya terhenyak dongkol beberapa menit, dan terlewat beberapa menit tanpa suara, serta untuk menit – menit berikutnya Ia menangis dihadapanku.
“Lalu, selama ini Kau anggap Aku apa ? Aku bertahan disini untukmu, Vhy”
Dia mempertegas posisinya, air mataku menetes.
“Aku bosan, bosan karna Mereka benar. Aku tidak punya masa depan jika bersamamu. Aku ingin kembali dikehidupanku yang dulu, tanpamu..” teriakku
“Katakan, jika Kau begini karna Orang Tuamu kan ? karna mereka tidak merestui Kita kan ? Kita bisa menjalani ini walau tanpa restu Mereka, Vhy.. Aku tidak bisa tanpamu”
            Dia mengokohkan hatinya yang telah Aku retakkan, Aku menggeleng dengan pasti.
“Aku begini, karna Aku sadari jika Aku tidak pernah benar – benar mencintaimu” jawabku, Dia menatapku tak percaya
“Bohong” tandasnya
Aku menoleh menghapus air mata dibelahan pipiku
“Terserah apa katamu, yang pasti Aku cukup bosan untuk bertahan. Jadi, jangan mendekatiku lagi atau Aku akan melaporkanmu !!”
“Aku tidak peduli, Aku akan terus mengejarmu. Vhy” tutupnya
            Benarkah Aku keterlaluan, Aku capek dengan segala kontorversi dan percakapan semua orang tentang Kami, yang mengvonis jika Dia tidaklah cukup pantas untuk jadi pendampingku.
            Aku lelah menerjang Mereka dan Aku memilih untuk menyerah.
            Aku memang pembohong. Sesulit apapun Aku mencoba sembunyikan hatiku dari Triez , Dia tetap punya jalan sendiri untuk mengertiku.  Demi orang Tua yang membesarkanku, Aku meninggalkannya, selagi ada kesempatanku untuk tidak menjadi anak durhaka di hadapan Mereka.
            Karna mungkin, Cinta Kita tidak cukup pantas untuk di pertahankan dihadapan Dunia.
Cinta itu ……. Rumit ..
            Cinta itu ……. Sakit ..
                        Cinta itu ….. ???

~~~
Love story let’s make a history..

Kenapa seseorang ditakdirkan bertemu untuk kemudian berpisah ?
kenapa harus ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan
oleh nalar biasa ? lalu Cinta itu perasaan yang seperti apa ?

“Aku tidak pernah menyakitimu. Jadi, kenapa Kau menyakitiku ? Aku salah apa ?”
kata-kata yang diucapkannya saat itu menjadi satu susunan kalimat yang terus Aku pikirkan. Kalimat yang memaksaku menangis, karna hari itu adalah beberapa hari setelah Aku mendapatkan Juara 2 dari speech competition for faculties Sintuwu Maroso University Poso.
            Sesaat Kami bahagia dan membagi kebahagiaan itu. Tapi, untuk semenit berikutnya.. Kami memilih berpisah dan menyudahi semuanya. Dia tidak disini, Aku tau. and I miss Him so much..
            rasanya seperti saat kecelakaan motor kemarin, luka yang meninggalkan bekas. Bekas yang akan selalu ada untuk selamanya, Aku terbiasa dengannya hampir 2 Tahun dan semuanya hilang.
            Saat mengikuti speech competition Aku menggunakan ‘How to learn English effectively and efficiently’  sebagai tema dan Salah satu peserta lomba menyukaiku, Namanya Fatur.

Why do u love me ?” tatapku
Cause, u very interesting and very smart and beautyfull also. N I will become your friend, could ? … If, more than friend, cannot U ?”
            Aku diam, Ku pikir salah satu cara untuk membuat Triez  membenciku adalah menemukan penggantinya. Jadi, Aku menerima Fatur  sebagai Pacarku.
            Fatur membawaku ke Pantai, melihat laut. Seorang pelayan memberi Coll cappuccino pesananku. Dia mengibaskan tangannya dihadapanku
“Apa yang Kau pikirkan ?”
Aku menggeleng “Laut disiang hari yang panas. Tapi, kenapa anginnya sejuk ?”
“Kau disini, denganku. Tapi, pikiranmu tidak disini” ujar Fatur
Aku menoleh risau
“Aku tau Kau masih mencintainya, Semalam Dia menahan motorku. Hampir memukulku”
“Triez  memukulmu ?” tatapku
Fatur mengangguk lalu tertawa garing
“Asal Kau tau, Kalau Saya akan lakukan apapun. Asalkan Kau bahagia dan hubungan Kita langgeng, Karna Saya tidak mau kehilangan Kau, Vhy..”
Angin pantai mengusik rambut panjangku, Aku diam.

~~~ 

Aku tidak tau apa yang Aku pikirkan, beberapa hari yang lalu. Triez  mengatakan jika Ia bisa dengan mudah mendapatkan penggantiku, Dia mempunyai 4 orang Gadis yang menyukainya.
            Aku tersenyum. Tapi, air mataku menetes, Fatur dan Papa jadi sangat dekat. Sejak hari dimana Triez  melabrak Fatur saat pulang dari rumahku, Papa menyuruh Polisi untuk memberikannya peringatan.
“Aku ditempat bilyard, Vhy.. Beberapa Polisi memberiku peringatan untuk menjauhimu, Kenapa harus seperti ini ? Kenapa Kita berakhir dengan cara yang tidak pernah Aku bayangkan ?”
Triez  menelponku, Aku diam lalu Dia mengakhiri Telpon-nya.
            Fatur  datang ke rumahku
“Beberapa hari ini, Aku akan pergi. Aku ketua Lomasis dikampus. Jadi, Aku harus merekrut anggota baru, Kita akan bertemu dua minggu lagi” ujarnya
Aku mengangguk
“Aku tau, pergilah”
“Kau tidak apa – apa ?”
“Iya” jawabku. Dia tersenyum, senyum terakhir yang Aku lihat lalu Fatur pergi.
            Aku ke kampus, lalu Ka’ Erick menelponku.
“Kau dimana, Vhy ?”
“Dikampus, ada apa ?”
“Apa yang Kau buat sama Triez  ? Dia mabuk di tempatku”
Aku diam meremas telpon.
“Apa Kau tidak akan takut jika anak ini bunuh diri hanya karna perbuatanmu ?” Ka’ Erick menadahku
“Aku tidak peduli lagi, Dia tau Aku benci Cowo Peminum berat ! katakan padanya untuk mati saja” Teriakku gahar, Beberapa teman di kelas spontan melirikku.
Aku menutup telpon-nya.
“Kau kenapa, Vhy ?” Mely datang menghampiri
Aku menggeleng.
“Maaf sebelumnya. Tapi, beberapa malam yang lalu Triez  curhat sama Saya di counter, sepertinya Dia benar – benar mencintaimu, apa yang harus Aku katakan padanya ?” tatap Mely
“Bilang saja Aku sudah melupakannya” tutupku, Lalu Ibu Tabitha masuk ke kelas memberi materi di litelature baru.

~~~
            Fatur sangat jarang memberikan kabar padaku, Aku menunggu di depan fakultas Ekonomi dengan gelisah. Lalu Triez  datang dihadapanku untuk pertama kalinya sejak ku tinggalkan.
“Sirsak ?” tawarnya
            Aku memang mencari buah sirsak beberapa hari yang lalu dan tidak ketemu.
“Kau tau Aku ingin sirsak ?”
“Aku mengenalmu jauh lebih baik dibanding dirimu sendiri” ujarnya.
Aku diam, Dia pergi.
“Buah sirsak ?” ka’ Iam menatapku keheranan
“Triez  yang memberikannya untukku”
Waah,.. Dia benar – benar perhatian” Ka’Iam tertawa renyah
“Tapi, sebenarnya Kami sudah putus” jawabku gagu.
            Mungkin Aku terlalu naïf padanya, Aku termakan semua ucapanku tentangnya. Triez  mengirimiku sms “Aku masih mencintaimu..”
            Aku membacanya satu sampai sepuluh kali sehari, saat Kami benar – benar berpisah dan Ia membahas perasaan dihadapanku. Aku tidak tau bagaimana bersikap untuknya

Sender      : Fatur
To             : Vhy
Text          : …
                          Mungkinkah nanti,
           Kau akan melukai
 Hatiku ?

            Aku memutar – mutar handphone di antara jemariku, Aku tidak tau harus melakukan apa untuk keduanya. Dosen sudah keluar menyisakan gerombolan mahasiswa dalam kelas, Aku membereskan beberapa buku dari kursi bermeja.
“Kau sudah mau pulang ?” tegur Triez, Dia masuk dalam kelasku.
Beberapa teman melirik Kami, Aku mengangguk gagu.
“Kau dengannya ?” Fatur menatapku
            Aku melirik keduanya, Teman – teman dalam kelasku mendadak keluar tanpa suara. Menyisakan Kami bertiga dalam kelas.
“Dia akan pulang denganku” ujar Triez
“Begitukah, Vhy ?” Fatur menatap geram
Aku berdiri dari kursiku, “Ahg, Tidak . . Bukan begitu” kilahku
“Memang seperti itu” gertak Triez
“Lalu ?” Fatur  menatap bingung
“Pilih Aku atau Dia” Triez menadahku
            Aku menatap keduanya, Fatur menghela nafas panjang lalu maju ke arah Triez. Aku menahannya.
“Jangan Fatur”
Triez  tertawa renyah “Lihat itu ? Dia menjagaku” ujarnya.
Fatur melirikku tanpa asa. “Aku..”
            Fatur pergi disaat Aku bahkan belum melanjutkan kalimat apapun, Aku hendak mengejarnya. Tapi, Triez  menahan lenganku
“Jangan pergi”
***

            Motor yang dikendarainya melaju, membawaku ke secret gembel lorong jayani.
“Sulit tanpamu, kembalilah Vhy..” Triez mendekapku di bawah pohon gersen.
            Air mataku tumpah, Aku tidak bisa menahan hati lagi. Aku membutuhkannya seperti biasa dan Aku tidak sanggup terus berbohong, Tanpa kata dihari terik dan Aku mengangguk sebagai jawabannya.

Sender      : Fatur
To             : Vhy
Text          : …
        I want and hope U forget
 Me, For Forever . I’m sorry If
           I’ve a mistake for U

            Seharusnya Aku yang minta maaf sama Fatur, karna Aku menjadikan Dia sebagai jalanku. Jalan yang akhirnya tidak perlu Aku lewati karna Aku kembali di jalan yang selama ini Ku pijaki.
            Malam tahun baru 2012, Aku bersama dengannya. Menatap kilau kembang api yang selalu berbalas dilangit Poso. Triez  membawaku ke Pelabuhan, Kapal K.M Sangiang bersandar dimalam itu. Dia membuka reqorder di Handphone lalu memberikannya padaku.
“Katakan, Kau mencintaiku”
“Di rekaman ?” tatapku heran
“Supaya Aku punya bukti, jika Kau pernah mengatakan Kau mencintaiku”
Aku tersenyum gagu, Dia menggaruk – garuk rambutnya.
Triez.. jika Aku menyakitimu, Aku janji itu yang terakhir. Aku tidak akan membuat air matamu menetes lagi, yang Kau ingin dengar dariku dan Aku akan mengatakannya. Jika Aku tidak harus mendengar ucapan Mereka lagi dan Aku akan mendengarmu. Karna Aku mencintaimu”
            Aku merekamnya di handphone lalu Ku berikan padanya. Dia tertawa renyah, menyingkirkan embun lalu mengecup bibirku. Air mataku menetes kelu, Maafkan Aku atas segalanya..
            Aku belajar satu hal menarik :
Jika ingin berkorban demi orang lain, lakukanlah dengan tidak mengorbankan orang lain. Ternyata yang namanya perasaan adalah hal yang begitu berharga.
            Besoknya, kelas Sore ku tidak diisi oleh Dosen muda. Dia hanya memberi tinjauan referansi untuk di buat laporan tulis. Triez  menggunakan mawar kuning menjemputku, Dia selesai menagih di seputar Gebangrejo untuk 5Vision.
“Kau membawaku ke TPI ? Untuk apa ?” tatapku heran, TPI adalah Tempat Pelelangan Ikan di pelataran hilir Kuala Poso.
“Membawamu pergi ke tempat – tempat yang baru pertama kali Kau kunjungi”
            Aku tertawa, Kami sampai. Dia menarik tali kekang di semenanjung, ada sebuah speedboat yang berlabuh di dermaganya.
“Naiklah” perintahnya
“Ini tidak apa – apa ?” tatapku heran
“Ini milik Polisi, Polisi di gaji berdasarkan pajak yang Kita bayar pada Negara. Jadi, Kita berhak menaikinya. Naiklah..”
Aku segera naik “Memangnya Kau juga bayar pajak ?” Keluhku.
Dia hanya tertawa.


~~~
            Aku genap 19 Tahun April ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Aku membeli beberapa higheals ditemani seorang Pacar. Dia lebih tertarik dengan heals yang tingginya cukup mengoncang langkahku, Aku tidak bisa menggunakan yang seperti itu.
            Lalu Kami membeli dua pasang perlengkapan bayi, Adiknya Kiky ( sahabatku ) lahir kembar. Namanya Dava & Davi. Kami akan ke Tatari, jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh.
            Sore di Tatari, Aku dan Triez pergi ke Tanjung Lemo melihat bulu babi laut juga hamparan ikan badutnya di air jernih.
“Aku punya kabar untukmu, Aku berhenti dari 5Vision” ujarnya
“Lalu, Kau akan kerja dimana ?”
“Aku kenal Ficky cucunya pemilik Hotel Beringin, Dia mempekerjakan Aku disana sebagai receptionist di Loby utama” ujarnya, Aku tertawa bahagia.
“Benarkah ?”
Dia mengangguk.
“Aku tau ini, suatu hari nanti hidupmu pasti akan jauh lebih baik dan Kau memulainya sekarang” ujarku, Dia mengangguk lagi.
            Triez  pindah dari kost gembel, Dia menetap di Hotel. Kami semakin jarang ketemu, bahkan di malam minggu pun Dia punya jam piketnya sendiri.
“Anggap Aku mau jika Aku menolak, Kejar Aku saat Aku berlari dan temui Aku saat Aku dihadapanmu, mengerti ?” pintaku
“Akan Aku ingat”
“Aku mencintaimu” bisikku, Dia tersenyum.
            Mataku terpejam, Aku tau saat Kita baru saja menutup mata dan saat membukanya bersama. Maka, masih ada banyak rintangan dijalan yang esok hendak Kami lalui.
            Mungkin, Aku tidak akan menyesal saat Ia berhenti mencintaiku. Karna, Aku sangat bahagia selama ini dan itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak mengharapkan apapun lagi.

~~~
“Kenapa rasanya Kau berubah, Triez”
“Berubah bagaimana ? jadi power rangerz ?” tatapnya
“Kita jarang ketemu, Kau jarang menghubungiku lalu Setelah semua itu, Kau jadi sangat cuek”
            Kami di warung mie ayam bundaran jam kota, Aku melingkari garpu-ku dengan mie Karna Aku tidak bisa menggunakan sumpit.
“Aku sibuk, berhentilah mencari masalah, nikmati saja disaat Kita masih bersama” ujarnya
            Aku terhenyak, Pak’de penjual memberikan hati ayam di piring kecil seperti yang biasa Kami pesan. Triez mencomotnya satu dengan sendok
“Lihat, kalimat itu, baru kali ini mendengarnya” gerutuku
Vhy,.. Aku cape, sampai Kapan Aku harus menunggumu menjadi dewasa ? Kau tau, demi makan malam denganmu, Aku menelantarkan jam piketku di loby. Tak ada seorang pun disana, Aku makan dengan pikiran yang tidak tenang lalu Kau makin membuatku kacau dengan banyak omelan” Dia menatapku gahar.
            Triez  yang Aku kenal, tidak akan pernah balik memarahiku disaat Aku menggerutu. Dia bersikap aneh, Aku meletakan sendokku dimeja.
“Kalau begitu, pergilah.. temui pekerjaanmu itu. Aku bisa makan sendiri”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri disini, makanlah.. jangan membahas ini lagi” kecamnya
“Kau bisa mengantar Ka’ Ficky untuk makan denganku, Aku tau Dia juga belum makan”
“Jangan memancing emosiku, Vhy.. makanlah. oke ?!!” Dia menadah sendoknya dengan geram.

            Hampir seminggu Aku pergi ke Mangkutana untuk acara keluarga, Triez  tidak pernah memberiku kabar dari Poso. Jadi, Aku menelponnya. Tapi, yang mengangkat bukan Dia.
“Siapa ini ?” suara Gadis diseberang sana
“Ini Aku Vhy, Triez –nya ada ? by the way ini Siapa, yah ?”
“Ini Aku pacarnya. Triez  lagi di dapur”
Aku diam memegangi Hp-Ku. Tidak selang berapa jam Triez  menelponku balik.
“Itu Ficky dengan Temannya, Dia mengerjaimu” jelasnya.
“Aku tau” jawabku gagu.
            Saat ada hal yang tidak beres terjadi. Maka, Aku sudah deluan merasakannya. Beberapa hari kemudian Aku datang ke hotel beringin.
Vhy.. ? mau ketemu Triez ?” Opa pemilik Hotel menegurku
“Iya, Opa. Triez-nya ada ?”
Dia tertawa “Cinta oh.. cinta, Ada. Biar Opa panggil” ujarnya.
            Aku mengangguk, menahan tawaku. Opa mengenalku dengan baik, Dia bahkan berjanji akan menjaga kedua matanya untuk memperhatikan Triez  agar tidak macam – macam dihotel.
“Kau disini ? kenapa ?” Triez datang
“Kenapa tanya kenapa ? bukannya hari ini Kau libur ? Kita akan keluar-kan ?” tatapku
            Dia menatap sekitar dengan cemas, lalu mengangguk.
“Lain kali, jangan kemari. yah ? Orang – orang akan memikirkan hal aneh tentang Gadis yang sering berkunjung ke Hotel” kecamnya, Aku mengangguk gagu. Lalu Dia membawaku pergi
            Kami ke warung dekat Tugu kemerdekaan di Kodim.
“Ada Erick di dalam dengan pacarnya” ujar Triez
Seorang Perempuan menegurku “Pacarnya Triez, yah ?”
Aku mengangguk.
“Maaf, yah ? waktu Aku ke hotel lalu, Aku nyaris ketahuan. Jadi, Aku menggunakan namamu. deh” lalu Dia tertawa. ke hotel ? menggunakan namaku ? maksudnya Apa ?
Astagah.. Aku langsung menghampiri Triez, menarik lengannya keluar.
“Aku mau pulang, Triez”
“Kenapa ?” tatapnya risau
“Aku bilang Aku mau pulang !!” teriakku gahar.
            Triez membawaku ke alun – alun jalur Dua, rontokan kuning akasia ku pijaki kasar.
“Kamu tiDur saMa Cewe itu, iYa ?” teriakku kelu
“Bukan begitu”
“BuKaN beGitu. Tapi, IyA KAaNn ?!!” tadahku
“Dia tidur. Tapi, Kami banyak bukan hanya Aku sama Dia”
            Aku menamparnya, Triez  terhuyung – huyung mendekapku. Aku mendorongnya, Dia menenangkanku. Tapi, Aku tetap memberontak.
“Aku sama yang lain dan Dia dekat tembok, Vhy..”
“Bohong ! buktinya Dia saMpe Pake naMaku ! kaRNa ketaHuan Opa, kaN ? Kamu itu saMa ajA kayak MerEka, GaJe ! unTuk apA, Hahg ? maU keNa sifiLis, iYaA ?” Teriakku.
“Vhy ! Diam ! Diam ! nggak ada yang kayak begitu ! Nggak ada !” suaranya lebih lantang dibandingkan Aku.
            Aku terduduk lemas ditrotoar, air mataku jatuh.

            Aku benar – benar tidak tenang, Dia membawaku diboncengan mengitari jalanan yang lumayan rusak di pesisir desa Kalamalea. Lalu Kami berhenti di pantai Matako.
“Masih marah ? boleh tidak Aku tidur di pangkuanmu ?” liriknya.
Aku duduk dipasir membelakanginya, Dia menunjuk dua orang yang sedang pacaran.
“Iri, yah ? dengan mereka yang mesra” ujarnya lagi, Dia hendak Meletakkan kepalanya di pangkuanku. Tapi, Aku segera berdiri. Jadi, kepalanya mendarat di pasir.
Aaww..” keluhnya
“Malam takbiran ini, Kau akan pulang kampung ke morowali lagi ?”
Aku menggeleng “Tidak, Ariny masuk rumah sakit. Jadi, Kami lebaran disini”
“Begitukah ? kalau begitu, Kita akan takbiran sama – sama”
Aku menoleh “Kau tidak akan piket ?”
Dia menggeleng
“Tidak. Jadinya, Aku janji saat malam takbiran nanti, Aku akan takbiran denganmu” ujarnya
Aku tersenyum “Janji ?”
“Iya, Janji”
~~~
“Kau jarang ke warungku akhir – akhir ini” keluh Merlyn saat Aku bertemu dengannya dijalur dua
“Adikku masuk rumah sakit, sebenarnya hubunganku dengan Triez  juga tidak berjalan baik”
“Kenapa ? Kalian berantem ? Vhy jadi tidak pernah main ke warnet lagi” ka’ Nhanank ikutan mengeluh, Aku tertawa renyah.
“Aku akan datang disaat Gratis” ujarku.
“Itu kan, Triez ?” tunjuk ka’ Nhanank
“Bikin apa disini ? Pulang saja sana” ujar Triez
“Kau ini kenapa ?” tatapku heran.
            Triez  menarikku ke depan warung menghindari teman – temanku. lalu Dia menyematkan jam tangan di lenganku.
“Lihat, Aku tau ini akan cocok denganmu”
“Jam tangan ?” tatapku bingung, Dia tertawa renyah.
“Aku tidak pernah melihatmu menggunakan jam tangan. Jadi, Aku pikir Kau membutuhkannya”
“Tapi, kenapa jarum pendeknya lambat 1 angka ?”
“Karna, mungkin Aku akan sering lambat 1 jam. Jadi, angkanya diatur mundur” ujarnya
            Aku tertawa, lalu Dia pergi meninggalkanku. Aku kembali dengan teman – temanku di ujung jalur dua, karna Triez  masih harus menjaga reception di loby utama.
            Hampir sebulan penuh Aku menetap dirumah sakit lantai 3 menemani Ariny yang terkapar karna demam berdarah, Ramadhan dibulan itu Aku tetap harus bangun pagi untuk ke kantor.

            Aku duduk di depan rumahku, menunggunya malam itu. Dia sudah lambat lebih dari sejam dan Aku akhirnya tau Dia tidak akan datang.
“Kau mau takbiran dengan siapa, Vhy ?” tegur Merlyn
“Aku sedang menunggu, Triez. Dia janji akan takbiran denganku malam ini”
“Tapi, Kata Ka’ Ridwan.. Dia pergi ke Palu siang tadi”
Aku tertegun, Dia mengingkari janjinya. Janji yang sempat membuatku bahagia dan melupakan kejadian Dimana Ada sosok perempuan lain yang menggunakan namaku.
            Air mataku jatuh, Lalu Aku tertawa. Jika, Dia akan pergi ke Palu untuk menemui Neneknya, itu bukan masalah bagiku. Yang jadi masalah adalah.. Dia tidak mengatakan apapun dan malah memberikan janji yang tidak bisa ditepati. Lalu membiarkan Aku percaya jika Ia akan menepati janjinya.
            Malam takbiran, Aku habiskan dikamar untuk menangisi diriku sendiri. Aku benci mempercayai-Nya ! Aku bisa meredam kecewaku jika hanya ini yang Aku bisa. Tapi, sampai lebaran Dia tidak menampakan wajahnya dihadapanku atau bahkan mengirimiku kabar.
            Apakah yang selama ini Aku takutkan, benar – benar terjadi ?
            Apakah Aku hanya gadis bodoh yang terus percaya kata – kata si Bodoh itu, sampai Dia pergi dengan cara yang tidak pernah Aku bayangkan ? Mungkin tidak mungkin Aku akan lebih membencinya Jika saja kejadian ini tidak terjadi esoknya.
            Pak Jip memintaku untuk meng-photocopy beberapa pekerjaan yang Ia selesaikan di seberang jalan, lalu pemilik Photocopy menegurku.
“Kau masih Pacaran dengan Triez  ?”
Aku mengangguk “Ada apa ?”
“Tolong katakan padanya, untuk memulangkan Kakak Perempuanku. Sejak malam takbiran, Dia membawanya dan belum pulang sampai seminggu setelah lebaran. Sebenarnya Mereka itu kemana ? Dia itu akan dipenjara oleh Ayahku” kecamnya
Aku tertekan, tanganku gemetar memegangi lembar – lembar kertas.
“Maksudnya, apa ya ?” tatapku bingung.
“Susah mau dijelaskan, Kakak Perempuanku sampai sekarang belum pulang. Aku tau Dia dengan Triez. Tapi, Aku juga bingung Pacar Triez  itu ada berapa, kenapa banyak sekali gadis yang menyimpan foto bersamanya. Tolong sampaikan saja Kalau Aku mencarinya” ujarnya ketus.
            Aku tercekat nafas, menggengami berkas yang hampir Ku jatuhkan ke lantai.
“Dia itu Cowo berengsek, Aku punya bukti seberapa berengseknya Dia. Aku punya video saat Dia bersama Teman – temannya” Gadis itu memberiku sebuah video dari handphone-nya.
            Aku memegangi handphone –ku, Aku tidak berani membukanya dan ketakutanku benar. Dia dugem dalam keadaan masih sadar. Badanku gemetar ingin pingsan, Pacar terbaik yang Aku punya telah berubah disaat hidupnya memasuki kategori lumayan.
“Kalo Aku ketemu, Triez. Akan Aku sampaikan jika Kau mencarinya” ujarku,
Lalu Gadis itu mengangguk puas “Terima kasih sebelumnya”
            Aku Merasa dunia menertawakanku, langkahku lemas menapaki jalan raya untuk kembali ke kantor. Aku bahkan tidak bisa merasakan apapun, Atau bahkan mendengarkan apapun lagi. Video-nya sudah cukup menyakitiku, Orang yang selama ini Aku bela ternyata bisa dengan pintar menghancurkanku.
“Cowok gila, Sudah Vhy,.. Lupakan saja Dia, lebih baik jika Kau tidak bersama dengannya. Jadi, Dia pergi dengan si Janda itu, mungkin itulah Jodohnya” gerutu Merlyn.
“Tapi, Kakak-ku juga belum pulang sejak malam takbiran” lanjutnya bingung
“Ka’ Ridwan ?” tatapku
“Iya, Dia juga pernah bilang kalo Triez  tidak ke Palu. sebenarnya Dia dengan Perempuan itu selama lebaran ada di sebuah kost – kost’an” tambah Merlyn lagi.
            Aku terduduk lesu di kursi dalam warungnya, khayalanku melebur tak berbekas. Air mataku bahkan tidak mau jatuh lagi, Aku mati rasa sejak saat itu.
            Aku menonton video yang diberikan Gadis itu, Triez  begitu bahagia dengan kehidupan malamnya. Aku diam tanpa ekspresi, rasanya sakit dan sangat sakit.
“Daripada Kau terus menyiksa dirimu, lebih baik Kita jalan. Kita lebaran ke rumahnya Saroh” ajak Mayang, Aku mengangguk.
            Teman – temanku berusaha menenangkanku, Aku membonceng Mayang lalu Merlyn membonceng Dewy dengan motor. Kami sampai dirumahnya
“Vhy tidak terlihat sehat” tegur Saroh, malam itu perutku sangat sakit. Mungkin Aku akan menstruasi seperti yang Ku perkirakan.
“Merlyn, Aku rasa tidak akan bisa pulang membawa motor. Perutku sangat sakit” keluhku
“Biar minta tolong temanku saja, Namanya Masri”
“Cowo, ya ?” tatapku, Merlyn mengangguk
“Tak apalah Cowo, lagian Kau sudah putus kan dengan Triez”
“Kau beneran Putus dengan Triez ?” Saroh menatapku heran
Begitulah,.. Ceritanya panjang” tutupku.
            Kami pamit dari rumahnya Saroh, Aku dengan Merlyn menunggu Masri di depan Kantor bupati. Akhirnya Dia datang membawa Adik Cowo untuk mengendarai motorku.
“Antarkan Saya pulang, Masri. Sakit sekali perutku” keluhku.
“Iya, biar motormu Adikku yang bawakan. Kenalan dulu dengan Adikku..” Perintahnya
            Aku menjulurkan tanganku
“Namaku, Vhy..”
“Aku, Rafick” Dia tersenyum.
            Disitu Aku mengenal Rafick untuk pertama kalinya, Aku dibonceng Masri sampai di depan rumahku. Keramahan yang Aku punya meminta Mereka untuk mampir. Tapi, keduanya menolak
“Obati saja dulu perutmu, Aku akan mampir lain kali” Lalu Masri memutar arah motornya
            Aku mengangguk “Makasih, ya ?” tatapku ke Rafick
“Cepat sembuh, ya ?”

            Aku masuk dan mendapati keyakinanku benar, Aku merasa hancur sampai berkeping – keping. Aku tidak pernah membayangkan semuanya berakhir percuma untukku.
“Vhyo ! Ada yang naksir sama Kamu, Dia minta nomormu. Aku kasih ya ?” Merlyn menelponku,
“Siapa ?” suaraku serak karna terlalu banyak menangis
Rafick ! Adiknya Masri yang kemarin membawakan motormu pulang”
Eih, Tidak mungkin Dia naksir sama Saya” kilahku
“Sudah, Nomormu ada padanya. Jadi, Kalau Dia menghubungimu jangan heran, oke ?” Lalu Merlyn mematikan telpon-ku.
            Seiring waktu, Aku mulai terbiasa dengan sms antara Aku dan Rafick, Aku menjadikannya tempatku bercerita. Dia layaknya Guardian Angel bagiku dan Triez  masih hilang ditelan bayangan.
            Sampai Pada sebuah kesempatan, Dia menembakku untuk jadi Pacarnya. Aku menerima Rafick dengan harapan bisa melupakan semua kesedihanku. Lalu malam minggu untuk ketiga kalinya, Aku bisa bertemu Rafick. Hari itu adalah malam ramah tamah selesai Ospek, Dia masuk di Tekhnik sipil 2012.
                Dengan alasan tidak menghadirinya, Aku dan Rafick hang-out ke pelataran Kantor Bupati. Tapi, Kami dicegat oleh Triez  , malam itu pertama kalinya Aku bertemu dengan Triez.
“Aku ingin bicara denganmu”
Aku tidak mau turun dari boncengannya Rafick.
“Selesaikan dulu urusanmu, Vhy..” Rafick melirikku.
            Aku terpaksa turun, Triez  menggenggam lenganku.
“Siapa Kau ? Aku tidak mengenalmu” ujarku kelu
“Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi, jelaskan dulu siapa Dia” Triez  menunjuk Rafick.
“Bukan urusanmu”
“Jadi, Kau main – main dengan Jagir, karna bisa dengan mudah membodohi Mereka, iya ? Dia bukan tandingannya denganku” Triez  tertawa renyah
“Setidaknya, Dia tau caranya menghargai orang lain. Tidak sepertimu” kecamku
“Marahlah sesukamu. Tapi, Kau tau ? Aku sangat merindukanmu” Triez  memelukku di depan Rafick, di depan semua Orang yang nongkrong disitu.
            Aku melepaskan dekapannya, Lalu menamparnya. ‘PLaAAKk’ Dia memegangi pipinya lalu menawarkan sebelah Pipinya lagi dihadapanku.
“Kau bisa menampar yang satunya lagi, Aku tau Aku pantas ditampar”
“Kau sudah Gila !” teriakku
“Iya, Aku gila Karna Kau” ujarnya lalu Dia jongkok dikakiku.
            Dia mencium Kaki kananku, Membuatku bergidik ngeri.
“Lihat, Aku tau Aku salah. ku bahkan rela Mencium Kaki-mu atau bahkan Kau injak – injak. Vhy.. Tapi, jangan pernah mengatakan pada Orang lain Kalau Kita sudah berakhir” kecamnya
            Aku diam, Rafick pergi dan Aku pulang dengan Triez.
Apa.. Kau akhirnya bahagia bisa bertemu dengannya ?” Rafick mengirimiku pesan
“Aku bahagia Dia baik – baik saja. Tapi, Aku mungkin tidak akan bisa bersamanya lagi” ujarku.
            Setelah semua yang terjadi, Aku membuat Rafick pergi dari hidupku untuk slamanya. Triez  bukanlah orang yang waras, Dia bisa membunuh siapapun yang mendekatiku. Sementara Anak itu, Dia tidak boleh menerima getah karna mengenal Ku.
            Aku bertemu dengan Triez beberapa hari kemudian di pelabuhan, Aku membuang flash isi rekaman-ku yang menyatakan Aku mencintainya ke Laut.
Apa.. ini balasan darimu, Karna Aku pernah menyakitimu dulu. Triez ?”
            Ombak memecah batu – batu yang disusun di dermaga, beberapa titik membagi tampias ke wajahku. Dia menatapku lalu membuang wajah.
“Banyak hal terjadi, Aku tau Aku salah”
“Jika Kau tau Kau salah, seharusnya Kau menjelaskannya. Apa Kau bingung, kesalahan bagian mana yang Aku tau, sampai Kau takut akan menjelaskan bagian yang malah Aku tidak tau ?”
Dia membakar rokoknya lalu menendangi kerikil kecil di latar dermaga.
“Kita belum berakhir, kan ?”
“Kita berakhir sejak Kau TIDAK ADA, Kemana Kau coba ?” tatapku.
Dia diam, Air mataku jatuh dipelupuk.
            Entah kenapa semuanya terasa makin hening untukku.
“Aku tidak bisa melanjutkan ini” ujarku putus asa
Kena pa… ? Semua orang pernah melakukan kesalahan, lalu kenapa Aku tidak bisa dimaafkan ?” tadahnya, Aku menahan tangisku.
“Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum Kau berniat meminta maaf. Tapi, Kau tau-kan ? Tembok saja bisa rubuh jika di debur setiap hari apalagi Aku ? Aku bahkan tidak sekuat tembok”
“Kita sudah melewati semua hal, Vhy..” kecamnya
“Iya ! dan Tidak pernah ada yang separah ini, Triez  !!”
Dia membuang rokoknya lalu menatapku.
“Aku tidak cocok denganmu” ujarku lagi
Dia menggeleng
“Aku hanya gadis biasa, Aku bukan Cewe metal yang bisa satu dunia denganmu. Dunia malam-mu dan kebiasaan – kebiasaanMu yang selalu terulang” ujarku sembari mengikuti gaya jemari tangan yang Ia pamerkan selama di video itu.
“Kau melihat video-nya, kan ?”
Aku diam membuang arah pandanganku, Dia tertawa renyah.
“Kau bahkan menyindirku dengan mengikuti gaya tanganku di video saat berbicara” Tadahnya.
            Banyak yang tersirat dalam otakku, akhir – akhir ini segala tentang Kami berubah drastic.
“Aku benar – benar menyesali semuanya. Tapi, tolong Vhy.. katakan apa yang Kau dengar dan Kau pikirkan tentangku. Kesalahan apa saja yang membuatmu membenciku seperti ini ?”
Aku.. bukan seseorang yang suka mengatakan kesalahan orang lain, Aku.. juga bukan seseorang yang bisa memberikan kesempatan kedua, Dan Kau sudah tau itu. Kalau pun Kau pikir Kau salah, seharusnya Kau tau dimana kesalahannya” ujarku, Lalu Aku pergi meninggalkannya di pelabuhan.

~~~
            Aku tidur di rumah Nenekku di tegalrejo, aroma bunga di tamannya membuatku nyaman. Namun, tetap saja beberapa kegelisahan ini mampu menguasaiku. Saat Aku tertidur lelap, Triez  datang membangunkanku.
“Kenapa kemari ? semua Orang sudah tidur”
Dia mendongak “Apa yang Kau pikirkan tentangku ? apa saja yang Kau dengar ?”
“jika Aku diam ternyata itu malah menyiksamu. Bukannya Kau sendiri yang memintaku untuk berhenti mengomel ?” Aku duduk di ruang depan.
            Semua lampu mati, Aku tidak bisa mendeteksi wajahnya atau memeriksa ekspresinya.
“Selain video, apalagi yang Membuatmu membenciku ?”
“Aku tau semuanya, Triez  ! SE-MU-A .. dan Kau tau-kan apa maksudnya itu ? Aku menahan sakit hatiku sampai tidak bisa mengatakan apapun lagi, Aku tidak ingin percaya. Tapi, itulah yang terjadi, Aku bisa apa ? jangan membuatku seperti ini” ujarku kelu.
            Aku tau segala hal yang Ia sembunyikan, bukan hanya video. Tapi, segala hal yang terjadi, hanya saja Aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. Dan Aku yang bodoh ini hanya menyakiti perasaanku sendiri karna terus menyimpan kata – kata itu.
            Besok paginya, Bibiku memintaku untuk membawa Triez  ke rumahnya.
“Apa Kau mencintai Vhy dan ingin serius dengannya atau hanya ingin bermain saja ? jika hanya untuk bermain, lebih baik jangan di teruskan. Kau tau-kan, Orang Tua Vhy tidak menyukaimu. Kalau Kau terus seperti ini, Kau hanya semakin membuat Orang Tua-nya sakit karna Mereka tidak tau Kalian masih pacaran” Bibiku menceramahinya.
“Aku serius dengan Vhy, Bi..” Triez menjaga kalimatnya
“Tadi malam, saat semua orang sudah tidur. Kalian berdua ketemu di rumah Neneknya kan ?”
“Iya” Aku mengangguk
“Orang Tua-mu akan sangat marah mendengar ini, Setahu Mereka Kalian sudah putus setahun yang lalu. Lebih baik, berhenti ketemu dibelakang Mereka dan mulailah bersikap sebagaimana mestinya”
            Aku diam, Triez diam. Lalu Kami bersama – sama pergi ke rumahku. Dan benar.. Papa sangat marah, Aku tidak pernah melihat Papa memasang wajah kecewa seperti itu. Itu sangat menyakitiku. Aku menangis.
“Papa benar – benar kecewa. Vhy sudah menyakiti hati dan kepercayaan Papa”
Aku diam meremas T-shirt-ku.
“Aku akan melamarnya, Om” Triez  menengahi.
dan itu benar,.. beberapa waktu setelahnya Keluarga Triez  datang ke rumahku, melamarku. Aku duduk diam di kamar.
“Kaka benar akan menerimanya ? Kaka siap hidup dengannya ?” Mama masuk ke kamar, membelai rambutku.
            Aku terbayang semua kenangan yang terjadi antara Dia dan Aku, Ku tela’ah segalanya.
“Mama tidak akan memusuhiku kalau Aku menerima lamarannya ?” tanyaku balik
“Tidak ada satupun Orang Tua yang akan memusuhi Anaknya. Tapi, tanyakan pada Hatimu sendiri, Kau pasti menemukan jawaban apa yang harus Kau ikuti”
            Semua indah bagiku saat dua tahun bersamanya. Tapi, entah kenapa memasuki tahun ketiga segala hal berubah hanya karna takdir hidup membaik ? Aku tidak ingin menjeremuskan hidupku karna Cinta yang membuatku buta dengan hidupku sendiri.
            Aku cucu pertama di Keluarga Ibuku, Aku Adik Perempuan dikeluarga Papaku. Aku tidak pernah punya keinginan menikah muda sekalipun dan itu membuatku memutar Otak.
“Jadi, bagaimana Vhy ? Apa Kau menerima lamaran keluarga Triez ?” Om Hutba membuyarkan lamunanku.
            Aku menatap satu per satu wajah di depanku, Lalu Aku terunduk pasi. Keluarga Triez memperhatikanku dengan seksama, Aku bisa merasakannya.
Aku.. sebelumnya Aku mau minta maaf, Maaf karna kelakuan Kami membuat seluruh keluarga menjadi khawatir dan berkumpul seperti ini. Aku mencintai Triez, itu benar. Aku pacaran dengannya hampir 3 tahun, itu juga benar. Tapi, Aku tidak bisa memikirkan segala yang terjadi akhir – akhir ini dengannya, Dia tidak bersamaku. Dia dengan hidupnya yang mulai sulit Aku pahami, Dia dengan siapa juga Aku tidak tau. Kami berada dalam masalah, dan Aku tidak siap untuk menikah. Entah saat ini, besok, setahun. dua tahun atau lima tahun lagi. Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Aku masih ingin menjadi Putri dalam keluargaku. Aku masih harus menjadi Adik dan Kakak sebagai panutan, Aku menyesal dengan semua hal yang terjadi. Tapi, Aku benar – benar tidak bisa menerima lamaran pernikahan ini. Aku minta maaf..” ujarku dan air mataku jatuh.
            Tuhan membuka mataku, Jika cinta tidak harus memiliki ending yang indah seperti yang selama ini Aku gambarkan dalam novel – novelku.
            Aku belajar banyak arti hidup dari Triez, jika Cinta tidak harus memiliki, Maka hal yang harus dipertahankan itulah yang dinamakan Cinta.
            Keluarganya pergi dari rumahku, membawa serta kebencian dan malu karna penolakan. Aku tidak pernah bertemu Triez lagi sejak saat itu.. Hidupku kembali Ku rakit dengan caraku sendiri, Aku tersenyum dan tertawa karna lelucon dan hal tidak penting.
            Hanya satu yang tidak bisa Aku lakukan, Aku tidak bisa lagi mempercayai Cinta. Aku sedih karna kehilangannya. Tapi, AKu bahagia, Aku melepasnya untuk hidupnya yang lebih baik. Aku membuatnya kembali ke pelukan keluarganya.
            Mereka membawa Triez  kembali ke Buol, Aku tau jika cara yang salah ini membuatku lega dengan benar. Aku membuatnya hidup dengan Dunia dimana Dia seharusnya berada, walau itu tidak denganku.
            Aku jadi sadar satu hal, kenapa sabit tidak pernah bisa bertemu dengan Hujan. Karna Mereka berada di musim yang berbeda. Dan mungkin setelah semua ini, Hanya Akulah satu – satunya sabit yang menyukai Hujan.

Bila nanti Kita berpisah,
Jangan Kau lupakan, kenangan yang indah kisah Kita.
Jika memang Kau tak tercipta untukku miliki,
Cobalah mengerti, yang terjadi.
Bila mungkin memang tak bisa,
Jangan pernah coba memaksa tuk tetap bertahan
ditengah kepedihan.
Jadikan ini Perpisahan yang termanis, yang indah dalam hidupmu
sepanjang waktu..
Semua berakhir tanpa dendam dalam hati,
maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu.
Semoga kelak Kau kan temukan, Kekasih sejati
yang kan menyayangi lebih dariku..
{ Song ; Lovarian ‘Perpisahan Termanis’ }

End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar